A Song of Ice And Fire: A Game of Thrones

img_8IoWp0RQk5DHV1XLgw4ji0UH1uz-8vFJWWyec0[1]

Judul: A Game of Thrones

Penulis: G.R.R. Martin

Penerbit: Fantasious

Rate: 5/5


Spoiler alert!!!

Inilah negeri tempat matahari terbenam.

Negeri  dengan tujuh kerajaan (Seven kingdoms), tempat klan-klan (house) besar saling berebut tahta.

Klan Baratheon, dengan rusa jantan bermahkota dengan warna hitam berlatar emas yang menjadi simbol. Semboyan mereka berbunyi Yang Kami Miliki adalah Amarah (Ours is Fury).

Klan Stark dengan direwolf abu-abu berlatar putih es sebagai simbol dan semboyan mereka adalah Musim Dingin Akan Datang (Winter is coming).

Klan Lannister dengan singa emas berlatar merah tua yang angkuh dengan semboyan, Dengar Raunganku (Hear me roar!).

Klan Tully yang memilih lambang ikan trout melompat, warna perak berlatar biru dan merah serta semboyan mereka; Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi.

Atau Klan Targaryen yang namanya diucap rakyat Tujuh Kerajaan dengan tangan gemetar, berpanji naga berkepala tiga, merah berlatar hitam, dengan semboyan Api dan Darah (Fire and blood).

Setiap klan terjun dalam pertempuran besar yang dipenuhi kepala-kepala terpancung, kuda bersimbah darah, dan tembok yang mengoyak rongga dada. Strategi dan tipu daya menjadi senjata utama mereka.

Klan mana yang akan tampil sebagai penguasa?

When you play the game of throne, you win or you die. There is no middle ground.” – Cersei Lannister

Selama ratusan tahun, Seven Kingdoms di Westeros bersatu di bawah pimpinan dinasti Targaryen, sebelum akhirnya berakhir di generasi ke-17, pada masa kekuasaan Raja Aerys Targaryen.

Aerys yang dijuluki mad king memiliki sifat paranoid yang semakin lama semakin parah, yang mengakibatkan seluruh realm menderita. Akhirnya house Baratheon, dibantu house Stark, memberontak dan berhasil menggulingkan sang raja gila, dan mengangkat Robert Baratheon untuk duduk di Iron Throne, sebagai pemimpin Westeros yang baru.

Sayangnya kedamaian tidak berlangsung lama, karena King Robert tewas ketika sedang berburu. Hal ini mengakibatkan banyak house yang ingin mengklaim Iron Throne, termasuk house Lannister, Baratheon, Greyjoy, Stark, dan Martell.

Belum lagi di Essos, kepulauan di seberang Westeros, satu-satunya penerus dinasti Targaryen yang tersisa, Daenerys Targaryen, sedang menghimpun kekuatan untuk merebut kembali haknya.

Akankah Daenerys bersama ketiga naga-nya berhasil membalas dendam dan berkuasa lagi di Seven Kingdoms?

Perebutan kekuasaan bukan satu-satunya masalah di Westeros. Di utara, para Night’s Watch penjaga the Wall yang membatasi realm dengan kawasan utara yang misterius sedang kekurangan orang.

Padahal tembok es ini adalah satu-satunya pelindung keseluruhan wilayah Westeros dari serangan mahkluk mistis the Others. Ketika para Night’s Watch masih sibuk menghalau serbuan para manusia liar (wildlings) dataran utara, mereka tidak menyadari ancaman sesungguhnya akan segera datang.

Dan ketika winter tiba, the Others akan mencapai puncak kekuatan mereka dan akan mencoba menyeberangi tembok untuk menyerang realm (kerajaan).

*Dikutip dari Scoop.

—————

Nah, itu tadi sinopsis untuk seri #1 dari A Song of Ice and Fire: A Game of Thrones, beserta garis besar ceritanya.

Sekarang kita masuk ke review bukunya ya, oiya soal buku ini, beruntung sekali loh karena sekarang sudah ada terjemahannya yang di publish sama penerbit Fantasious. Ya walaupun menurut gue untuk terjemahannya, beberapa kalimat terasa janggal buat dibaca, ga kayak bahasa umumnya yang diucapkan orang Indonesia. Mungkin untuk novel terjemahan, kalau menurut gue gaya bahasanya harus disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, biar nyaman dibacanya.

Selain itu, gue juga lebih suka kalau istilah dalam novel ini tetap dalam istilah aslinya, ga usah diterjemahin semua. Misal, Night watch (garda malam), house (klan), Children of the forest (anak-anak hutan), dan lainnya. Tapi tetap dikasih glosarium.

Ok, kembali ke review.

Kalau melihat garis besar plot-nya, tentu kita mudah menebak bahwa intrik politik dan perebutan kekuasaan menjadi suguhan utama dalam buku ini.

Perseteruan menjadi lebih menarik karena tiap-tiap house/klan memiliki alasan dan klaim masing-masing yang kuat untuk ikut memperebutkan Iron Throne, baik itu karena faktor keturunan, merasa yang paling kuat, niat balas dendam, ataupun untuk melindungi Westeros.

Intrik politik dalam cerita ini digambarkan secara cerdas, di mana para pemimpin di seluruh Seven Kingdoms saling beradu strategi untuk memenuhi ambisi mereka. Wah, pokoknya keren, masing-masing pemimpin house sama-sama liciknya.

Sama kerennya kalau kita mengikuti cerita karakter-karakter yang terdapat dalam klan itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam buku Game of Thrones ini cenderung natural dan seimbang (sama kuat, sama licik, sama kurang ajarnya), dalam artian tidak ada tokoh yang benar-benar baik maupun yang murni jahat.

Karakter yang pada buku 1 kita benci misalnya, bisa aja kita tiba-tiba merasa simpati ke dia di buku 3, karena memang tiap-tiap karakter mengalami perkembangan cerita yang sangat menarik.

Intinya, seri A Song of Ice and Fire ini ga mengenal tokoh protagonis maupun antagonis. Di awal membaca sih, mudah aja kita menduga para anggota keluarga Stark sebagai “heroes”, dan para Lannister sebagai “musuh”.

“Jangan pernah melupakan siapa dirimu, karena dunia jelas takkan melupakannya. Jadikan itu zirah pelindungmu, maka takkan pernah ada yang menggunakannya untuk menyakitimu.” —Tyron Lannister

Tapi sebelum buku pertama berakhir, pendapat ini sangat mungkin sudah berubah. Belum lagi banyaknya kejutan, di mana orang-orang yang kita anggap penting dalam cerita tiba-tiba bisa terbunuh dengan begitu mudahnya. Kalau boleh dibilang sih, penulisnya raja tega sama karakter ciptaan dia sendiri.

Selain itu George R. R. Martin sendiri kayaknya sangat mementingkan penokohan para karakter tersebut, sehingga buku ini engga menggunakan pakem yang biasa digunakan oleh penulis novel lain (disini hebatnya G.R.R Martin).

Jika biasanya novel lain menggunakan bab yang menceritakan alur berdasarkan waktu, Game of Thrones justru menggunakan point of view para tokoh sebagai bab-nya. Contohnya, bab yang berjudul “Jon Snow” akan menceritakan kejadian sesuai sudut pandang seorang Jon Snow.

Dengan penulisan berdasarkan sudut pandang karakternya tersebut, George R. R. Martin (kayaknya) ingin pembaca bisa memahami jati diri tiap-tiap tokoh, termasuk untuk tokoh yang dianggap jahat dan alasan kenapa mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang seolah-olah tidak masuk akal.

Buku Game of Thrones juga berisi banyak adegan kekerasan, seks, incest, hingga perilaku absurd para tokoh-tokohnya (apalagi kalau versi series nya yang tayang di HBO, beeeh sa ae).

Mungkin banyak yang bilang kalau adegan vulgar semacam ini ga perlu, dan cuman trik murahan buat dapat rating tinggi. Tapi buat gue malah sebaliknya, adegan semacam itu bila dibaca sepintas memang kelihatannya bisa dihilangkan. Tapi kalau kita melihat cerita secara keseluruhan, adegan-adegan itu justru memperjelas sifat-sifat para karakter di buku, selain itu juga memberikan gambaran bagaimana perilaku masyarakat pada abad pertengahan, dalam hal ini di Westeros dan Essos.

Emang sih klise, tapi buku Game of Thrones memang bukan bacaan remaja atau roman yang perlu menggunakan bahasa halus untuk menyampaikan realita situasi pada masa itu. Jadi buat yang masih merasa tabu, sok alim, atau jaim-jaim, menurut gue mending ga usah baca sama sekali deh ya.

Overall, seluruh cerita GoT seri #1 ini sangat-sangat keren, apalagi buat para pecinta cerita fiksi fantasi/kolosal, gue rekomend banget deh. Penulisannya yang cerdas, dan pengembangan karakter tiap tokoh yang apik menjadi nilai lebih buku ini. Bisa dibilang sih penulisnya merupakan penerus J.R.R. Tolkien jaman sekarang. Jadi ga ada salahnya kalau gue kasih rate 5/5.

“Can a man still be brave if he’s afraid?”
“That is the only time a man can be brave.”
– Eddard Stark

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s