Review: My Life As Writer

PicsArt_1453683895375[1]

Judul : My Life As Writer

Penulis : Haqi Achmad & Ribka A. Setiawan

Penerbit : Plotpoint

Rate : 4/5


“Menulis adalah bekerja untuk keabadian” – Umar Kayam

My life as writer, seperti judulnya, merupakan buku yang mengulas kisah perjalanan para penulis, khususnya penulis Indonesia. Melalui buku ini, penulis memaparkan bagaimana kisah para penulis tersebut pada awal karir mereka hingga menjadi penulis terkenal. Kelima penulis ini antara lain adalah Alanda Kariza, Clara Ng, Dewi Lestari (Dee), Farida Susanty, dan Valiant Budi Yogi.


Kisah pertama kita mulai dari Alanda Kariza.

Alanda, gadis cantik berbadan mungil ini merupakan penulis paling muda yang dimuat dalam buku ini. Dengan usia yang relatif masih muda, 24 tahun, ia sudah menjadi penulis populer di Indonesia.

Karir menulis Alanda dimulai pada usia 14 tahun dengan menerbitkan buku pertamanya Mint Chocolate Chips. Diawali dari sebuah buku tersebut, mulai banyak pintu terbuka bagi Alanda, seperti jadi finalis CosmoGIRL! of the Year pada 2006, menerima Ashoka Young Changemakers Awards di bagian Innovation in Clean Water and Sanitation pada 2010.

Selain itu Alanda juga menjadi kontributor atau freelance writer di beberapa media seperti GoGirl!, Seputar Indonesia, The Jakarta Post, Jakarta Globe, dan media internasional milik PBB bernama UN Chronicle.

Prestasi yang sangat membanggakan bukan untuk gadis muda seperti Alanda.

Bicara soal prestasi menulis, selain aktif di media cetak, Alanda juga bisa dibilang produktif dalam menghasilkan buku fiksi dan nonfiksi. Buktinya, setelah buku pertamanya terbit, Alanda kemudian menerbitkan kumpulan cerpen; Vice Versa, The Journey 2, Pertama Kalinya!, dan yang paling anyar berjudul DreamCatcher.

“Aku nulis dan punya buku harian, sih. Waktu kelas 4 SD, tapi nggak berlanjut karena lebih suka ngeblog” – Alanda. hlm 19

Dala buku ini juga dikatakan bahwa Alanda sempat jatuh bangun untuk menerbitkan buku pertamanya, mulai dari ditolak penerbit, naskah yang dianggap tidak cocok, kurang menarik, dan lainnya. Namun, kegagalan tersebut justru semakin membuat Alanda ngotot untuk dapat menerbitkan bukunya, hingga akhirnya ia memilih penerbit independen agar dapat menerbitkan bukunya. Dan berhasil.

Yang paling menarik, Alanda menyatakan kalau ia sangat menyukai tulis-menulis, dan itu adalah passionnya. Selain itu Alanda juga percaya kalau setiap orang itu berkembang sesuai dengan lingkungan, mimpi, dan keadaan yang menimpa orang tersebut.

“Ketika kita menulis apa yang kita suka, secara langsung kita sudah memberi napas di buku itu” – Alanda

Alanda menganalogikan profesi menulis dengan profesi koki. Menurut dia, seandainya seorang koki profesional tidak bisa membedakan makanan yang enak atau tidak, di luar resep pribadinya, tentu koki itu tidak bisa disebut sebagai seorang koki. Begitu juga penulis.

“MENULIS: My Passion dan caraku berekspresi” – Alanda.


Clara Regina Juana (Clara Ng)


Bisa dibilang kalau Clara Ng ini merupakan salah satu penulis Indonesia yang paling produktif. Buktinya, ia telah menerbitkan beberapa judul buku dengan genre yang berbeda-beda hampir tiap tahun.

Keren kan? Seakan-akan ia memiliki imajinasi yang tidak ada habisnya.

Buku pertamanya, yang ia terbitkan sendiri, adalah Tujuh Musim Setahun (2002), dan disusul kemudian dengan seri Indiana (2004). Di tahun 2005 ia mengeluarkan 3 buku; The (Un)Reality Show, Lipstick dan Bridesmaid yang merupakan lanjutan seri Indiana. 

Lalu berlanjut di 2006 lewat Utukki: Sayap Para Dewa dan Dimsum Terakhir. Di 2007 ada Tiga Venus, dan Gerhana Kembar, Tea for Two (2009). Dan ada juga trilogi Jampi-jampi Viraiya; Jampi-jampi Viraiya (2010), Ramuan Drama Cinta (2011), Mantra Dies Irae (2012), dan masih banyak lagi.

“Seorang penulis perlu mengetahui waktu kematangannya. Seorang penulis yang baik mengerti dan memahami kapan waktu terbaik untuk BERBUAH” – Clara Ng.

Kegemaran membaca sejak kecil mendorong Clara untuk menulis. Menurutnya, proses membaca dan menulis merupakan proses yang alamiah. Kalau seseorang banyak membaca, secara alamiah orang itu akan terdorong untuk menulis.

Menurut Clara sudah seharusnya setiap orang menyukai menulis. Karena menulis adalah salah satu sarana yang tepat untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan sesuatu.

Dewi Lestari (Dee)
Nama Dee pasti sudah tidak asing lagi, sebagai salah satu penulis papan atas dan fenomenal Indonesia, banyak orang yang tergila-gila (adeection) dengan novel pertamanya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang masih berlanjut hingga saat ini.

Uniknya, meskipun sekarang ia berprofesi sebagai penulis, Dee kecil ternyata tidak terlalu suka membaca seperti saudaranya yang lain, tetapi ia sangat senang mengkhayal. Dan dari kesenangannya mengkhayal itulah yang akhirnya memicu Dee untuk mulai menulis.

 

“Sebagai penulis, aku berbicara lewat bukuku” – Dee.

Bagi Dee, penulis adalah profesi yang sangat nyaman. Ia menganalogikan penulis sebagai sebuah kasur dengan selimut tebal yang sangat nyaman.

Tips Menjadi Penulis Ala DEE

  1. Berani Gagal

  2. Berani Berhasil

  3. Menjadi Pengamat Yang Baik

  4. Jujur Dengan Diri Sendiri


Farida Susanty

Dari semua penulis yang ada di buku ini, Farida adalah penulis yang masih asing bagi saya. Penulis kelahiran 18 Juni 1990 yang berasal dari Bandung ini mungkin dikenal pertama kali di kalangan para pecinta novel, khususnya teenlit, karena novelnya yang berjudul Dan Hujanpun Berhenti  masuk ke kategori Best Young Writer di Khatulistiwa Literary Award 2006-2007, dan hebatnya lagi dia terpilih sebagai pemenang.

“Aku menulis setiap hari… ” – Farida

Menulis merupakan kesenangan Farida sejak kecil, tapi ia tidak pernah menunjukkannya ke orang lain, alasannya hanya karena Farida merasa malu apabila ada orang yang membaca karyanya.

Hingga saat saat novel Dealova booming di 2000-an, merasa termotivasi dengan kepopuleran novel tersebut, Farida berpikir kalau ia juga harus bisa meluncurkan novelnya sendiri dan melihatnya dipajang di toko-toko buku besar dan digerumungi pembeli. Dan seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, lahirlah buku pertamanya Dan Hujanpun Berhenti.

Valiant Budi Yogi
Atau yang kerap disapa Vabyo berlayar pertama kali di duni perbukuan dan penulisan dengan buku berjudul Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka pada tahun 2007.

Setelah itu, bak air mengalir, banyak buku yang ditulis baik olehnya sendiri atau bersama penulis lain. Judul seperti Bintang Bunting (2008), Kepada Cinta: True Love Keeps No Secrets (2009), dan Kedai 1001 Mimpi di 2011.

Sementara beberapa buku lainnya ditulis Vabyo bersama penulis-penulis lain, seperti judul The Journey 2 dan Perkara Mengirim Senja, Menuju(h) dan Memoritmo. Selain itu, di 2012 Vabyo kembali meluncurkan buku terbarunya yang ditulis bersama Windy Ariestanty yang berjudul Kala Kali.

Vabyo mengakui, pertama kali ia menulis saat duduk di bangku kelas 4 SD. Cerita yang ditulisnya masih tergolong simpel, hanya bercerita mengenai permainannya bermain petak umpet. Uniknya, latar belakang Vabyo membuat cerita-cerita tersebut lebih karena mempunyai banyak khayalan terpendam yang ingin disalurkan, dan menulis adalah medianya.

“Aku selalu percaya bahwa setiap kegagalan yang terjadi hari ini adalah proses ketika kita disiapkan untuk sebuah keberhasilan di masa depan” – Vabyo.

Sama halnya dengan penulis lainnya pada awal karir mereka, Vabyo juga mengalami banyak kesulitan untuk membuat naskahnya dilirik penerbit. Berbekal kegagalan tersebut, ada dua tips dari Vabyo agar naskah kita dilirik/dibaca oleh editor.

  1. Membuat Tulisan Yang Membaur, dan
  2. Membuat Cover Naskah Yang Terang (Eye Catching)

“Jangan takut MENDOBRAK, siapa tahu dobrakan yang kita lakukan akan menjadi tren berikutnya” – Vabyo.

————-

Ok, itu tadi ulasan saya dari buku my life as writer. Sekarang saya akan review sedikit.

Buku ini menurut saya sangat menarik, tentunya karena memuat kisah para penulis top. Jujur, empat dari lima penulis yang dimuat dalam buku ini merupakan penulis yang saya kagumi.

Selain itu, kelebihan buku ini adalah covernya yang eye catching disertai tulisan dan halaman yang juga dipenuhi warna yang membuat mata pembaca tidak bosan. Isi buku yang ringan serta jenis fontnya yang enak dibaca. Cocok dibaca saat sedang bersantai sambil ditemani secangkir coffee latte yang creamy di sore hari.

Tidak hanya mengulas profil penulis, tapi juga memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana dunia tulis menulis, memberikan motivasi kepada pembaca, serta banyak tips menulis yang dapat diambil hingga tips bagaimana mengatasi saat mengalami writer’s block. Buku ini sangat cocok buat para penulis pemula yang ingin menekuni dunia tulis menulis, serta bagi pendidik yang ingin mengenalkan profesi menulis kepada anak didiknya.

Dan yang paling penting, buku ini akan menginspirasi kamu-kamu untuk terus berkarya melalui tulisan. Karena, seperti kata Umar Kayam: Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s