Review: Animal Farm – George Orwell

Processed with VSCO
Sumber: @bukumaul (instagram)

Judul : Animal Farm

Penulis : George Orwell

Penerbit : Bentang Pustaka

Rate : 5 /5


Sinopsis.

Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentnang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memambukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pimpinan harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan, walau harus dengan kekerasan.

——-

Review

Saya akui, pertama kali saya melihat novel ini terpampang di rak toko buku, saya langsung merasa kepincut. Ya wajar saja, diantara novel lain cuma Animal Farm ini yang covernya nyentrik; berwarna pink dengan wajah babi bertopi militer yang menghiasi. Satu bintang untuk desain covernya.

Jika dilihat dari keterangan pada bagian belakang buku, kita dapat mengetahui kalau Animal Farm ini merupakan novel alegori politik yang ditulis semasa perang dunia 2. Secara keseluruhan, isi buku ini merupakan alegori satir oleh Orwell yang ditujukan kepada tokoh-tokoh Politik seperti Rusia, Uni Soviet, Jerman, Amerika pada masa itu dan ditulis dengan begitu cerdas.

Di sini, Orwell mencela habis-habisan sikap seorang pemimpin yang tiran /kejam kepada rakyatnya. Novel ini menggambarkan dengan gamblang bagaimanan sikap seseorang yang korup, manipulatif, dan diskriminatif yang dilakukan oleh seorang pemimpin.

Korupsi tergambar lewat kejadian hilangnya beberapa ember susu di peternakan. Manipulatif dilukiskan Orwell dengan terus diubahnya tulisan Tujuh Perintah (semacam landasan ideologi bagi penghuni peternakan) secara diam-diam untuk melegalkan segala tindakan pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan sendiri. Sedangkan ketidaksetaraan tergambar ketika Napoleon, pemimpin peternakan, dan antek-anteknya memutuskan untuk tinggal di dalam rumah daripada di kandang dengan alasan agar para pemimpin dapat bekerja dengan baik. Padahal ini hanya akal-akalan para babi karena merasa diri mereka lebih mulia daripada hewan ternak lain.

Padahal, jika seorang pemimpin benar-benar mengayomi rakyatnya, maka mereka seharusnya lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada kesejahteraan mereka sendiri. Sekarang coba bandingkan dengan petinggi-petinggi di negeri ini, rasanya perilaku mereka terwakilkan dengan buku ini.

Menurut saya, Orwell memberikan kritiknya terhadap keadaan sosial politik masyarakat dengan sangat brilian dengan menggunakan binatang sebagai gambarannya. Sehingga bacaan bertema politik yang biasanya cenderung berat dibaca malah menjadi bacaan yang ringan dan menarik, tentunya tetap sebagai bacaan yang mendidik bagi semua kalangan pembaca.

Membaca novel ini saya seakan bercermin melalui karakter-karakter di dalamnya.
Dan saya rasa, ada baiknya jika buku seperti ini menjadi bacaan wajib bagi para calon pemimpin /pejabat, agar selalu senantiasa berkaca dan mawas diri lewat kritik yang diberikan Orwell.

Tidak ada suatu bangsa yang akan maju dan menjadi besar jika pemimpinnya tidak bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Semoga kita menjadi orang yang sebaik-baiknya orang, bukan jenis seperti Pak Jones, Napoleon serta para antek-anteknya.

Jangan lupa subscribe & comment ya…

Advertisements

2 comments

  1. arip · March 11, 2016

    Paling suka epilog terakhir novel ini: dari manusia ke babi, dari babi ke manusia, mereka sudah tak bisa membedakan antara keduanya.

    Like

    • maulidiabd · March 15, 2016

      Yup sama,dari kalimat itu ketahuan kalau manusia yang memang punya sifat rakus (kekuasaan, kehormatan, kekayaan) derajatnya akan terperosok menjadi hina, dan bukan manusia lagi tapi malah seperti babi yang sifatnya memang rakus, apa aia diembat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s