Review: Jodoh – Fahd Pahdepie

Processed with VSCO with hb1 preset
Sumber: @bukumaul (instagram)

Judul : Jodoh

Penulis : Fahd Pahdepie

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun : 2015

Rate : 3,8 / 5


“Cinta selalu membutuhkan ketidaksempurnaan, untuk membuktikan kesempurnaannya” – Jodoh

Apa itu jodoh?

Barangkali imajinasimu tentang jodoh dan belahan jiwa begitu sederhana: di tepi pantai, kau mengandaikan ada orang di seberang sana yang tengah menunggumu untuk berlayar.

Namun di saat yang sama, terkadang kau justru meragu sehingga sering kali hanya bisa menunggu, mendambakan orang yang kau nantikan itu akan lebih dulu merakit sampannya, mengayun dayungnya, dan mengarahkan kompasnya untuk menjeputmu.

Tetapi laut, ombak, dan isinya, selalu menjadi misteri yang tak terduga-duga, bukan? Orang yang kau sangka belahan jiwa sering kali hanyalah perantara, atau justru pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya

Ini adalah kisah tentang seorang laki-laki dan perempuan, yang memutuskan untuk berlayar -jauh sebelum mereka mengenal ketakutan; jauh sebelum mereka bisa membaca arah atau menebak cuaca; bahkan jauh sebelum mereka disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang waktu, takdir, cinta, dan jodoh itu sendiri.

————–

*Spoiler Alert

Jodoh merupakan novel perjalanan cinta dua anak manusia yang sudah berteman sejak kecil, Sena dan Keara,  yang dalam hal ini tidak lain adalah penggambaran diri dari penulis novel ini sendiri yaitu Fahd Pahdepie yang berperan sebagai Sena, dan istrinya Rizqa sebagai Keara.

Pada bagian awal menceritakan kisah ketika Sena sedang menonton film cinta remaja –AADC, bersama Keara. Dalam bagian ini diceritakan kenapa Sena memutuskan untuk membuat perjalanan cinta mereka ke dalam sebuah buku atau novel tepatnya. Yang tidak lain, kalau saya tidak salah tangkap, karena ia ingin cerita cinta mereka terabadikan.

“…. Aku akan menuliskan kisah kita, batinku. Semoga kita punya akhir cerita yang bahagia” – Jodoh, hlm. 3

Kisah cinta mereka berawal ketika Sena dan Keara sama-sama berada di kelas satu SD. Ketika itu Sena, bocah yang merasa lebih dewasa daripada anak seumurnya, pertama kali melihat Keara yang tidak lain adalah anak dari teman ibunya sendiri. Dan kali pertama Sena melihat Keara, saat itulah ia jatuh cinta, cinta pandangan pertama. Sejak saat itu dimulailah perjalanan cinta mereka, walaupun pada mulanya Keara bersikap dingin kepada Sena.

“Cerita sebenarnya adalah aku jatuh cinta kepadamu sejak SD kelas satu!” – Jodoh, hlm. 13

Yah, kalau dipikir, Sena ini cukup gendeng juga anaknya. Harusnya ia memikirkan sekolah dan main -seperti anak umur kelas satu SD lainnya, lah dia malah langsung jatuh cinta. Ternyata cinta tidak memandang skala umur seseorang, parah…parah.

Uniknya, perasaan cinta Sena ini bukan hanya sekedar cinta monyet, perasaan cintanya kepada Keara terus berkembang seiring bertambahnya usia mereka. Terlebih lagi ketika mereka sama-sama melanjutkan sekolah ke pesantren, di sanalah akhirnya mereka saling mengungkapkan perasaan, dan Senapun tahu bahwa Keara juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya.

Hubungan di antara mereka terus berjalan, walaupun pada akhirnya Sena harus berpisah dengan Keara yang keluar dari pesantren lantaran sakit. Cinta mereka terus diuji, saat memasuki masa kuliah, Sena memutuskan untuk berkuliah di Jogja, sebagai rencana proyek masa depannya. Sedangkan Keara tetap berada di Bandung. Kesungguhan cinta mereka dipertaruhkan di sini, dengan dipisahkan oleh jarak, komunikasi di antara mereka terputus.

Ujian demi ujian terus menghadang di hadapan mereka, penyakit yang sempat melanda Keara kembali kambuh hingga dokter menyatakan usianya hanya bisa sampai 23 tahun saja, lantas apakah akhirnya perjalanan cinta mereka akan mencapai muara seperti yang mereka harapkan? Atau malah hanya akan berhenti di tengah jalan?

Review:

Awalnya saya tertarik dengan judul buku ini, Jodoh. Saya berpikir siapa sih yang berani menyinggung soal jodoh, dan menulisnya menjadi satu buku. Sempat saya suudzon kalau isinya adalah tentang kata motivasi bagi seorang jomblo untuk terus semangat mencari jodoh, tapi ternyata bukan. Dan saya bersyukur, karena jika iya, maka saya akan merasa dihakimi oleh penulis.

Secara keseluruhan saya menyukai bagaimana Fahd Pahdepie merangkai kata demi kata dalam buku ini dengan begitu manis. Menurut saya dia berhasil menuliskan kisah cinta Sena dan Keara dengan kadar yang pas, Fahd menceritakan kisahnya yang manis meskipun  tetap ada sisi pahitnya -kalau boleh dibilang seperti itu, dan saya menyukainya karena cerita cinta yang ia tulis tidak seperti cerita cinta pasaran yang digandrungi remaja umumnya yang saya sebut cerita cinta, maaf, memble.

Ok, itu Cuma pendapat saya saja.

Ohiya, selain dari penulisan kata yang baik, saya juga suka bagaimana Fahd menuliskan nilai islam ke dalam cerita cintanya. Saya menyukai bagaimana idealisme dari Sena yang tetap memperjuangkan cintanya kepada Keara agar cinta mereka tidak terbawa nafsu sesaat yang hanya akan mengotori cinta mereka. Hal ini terlihat dari kalimat berikut (walaupun itu tidak lantas membenarkan pacaran dalam islam):

“… Disatu sisi aku begitu menginginkanmu, di sisi lain ada nilai-nilai dalam diriku yang membuat diriku tak mungkin menjamahmu. Kita berdua tahu itu.” –Jodoh, hlm.52

Saya juga menyukai bagaimana cara Sena memperlakukan Keara dengan surat-suratnya, bagaimana dia berusaha memperjuangkan cintanya untuk Keara. Selain itu saya juga menyukai bagaimana penggambaran tokoh Keara yang awalnya bersifat jutek, kemudian melunak pada Sena, hingga sifat manjanya saat mereka sedang berdua.

Ah, benar-benar manis menurut saya, sayangnya keadaan seorang jomblo malah menghantui saya ketika membayangkan kemesraan mereka #JlebMoment

Alur penceritaan juga dikemas begitu mengalir, selain itu ada penambahan penggalan puisi dari buku Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Darmono yang sekaligus semakin menambah rasa manis dalam buku ini. Hanya saja ada beberapa bagian cerita dalam buku ini yang sengaja saya skip karena saya berpiki Ok, bagian ini saya tahu akan seperti apa dan saya tidak mau bertele-tele, saya ingin segera tahu bagaimana kelanjutan Sena dan Keara”.

Yah, terlepas dari itu, buku ini menurut saya layak buat dibaca, seperti kata Dee dalam pengantar buku ini; Jodoh menjadi bacaan manis sekaligus liris, tepat untuk yang sedang dimabuk cinta atau yang ingin mengenang betapa memabukkannya substansi bernama cinta.

Terakhir, cerita cinta memang selalu menarik untuk diikuti dan tidak akan ada habisnya untuk terus diurai lalu dikisahkan kembali baik dalam bentuk sebuah buku. Cerita cinta juga kadang dapat membuat seseorang mengharu-biru saat membacanya, sama halnya dengan buku ini, membuat pembaca terbawa dengan manis dan lirisnya cinta Sena dan Keara.

Cerita yang sederhana memang, tentang cinta pertama dua anak manusia yang sering membuat hati bergetar. Kekuatan utama dari buku ini tentunya tidak lepas dari kepandaian seorang Fahd Pahdepie yang dapat merangkai kata demi kata dengan begitu indah dan quote-able.

Dan yang paling penting, buku ini mengajak kamu untuk berpikir dan memaknai apa sebenarnya Jodoh itu.

Lantas apa menurutmu Jodoh itu? Silahkan tulis dalam kolom comment di bawah.
Wasalam.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s