Review: The Martian – Andy Weir

Processed with VSCO
Sumber: @bukumaul (instagram)

Judul : The Martian

Penulis : Andy Weir

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2015

Rate : 4.0/5


“All of Earth is watching but powerless to help” –The Martian.

 

Spoiler Alert!

Mark Watney terbangun di Sol ke-6 (sebutan untuk hari saat berada di Mars) dari total dua bulan singkat yang seharusnya menjadi perjalanannya di luar angkasa, sebuah antena menancap di bagian pinggangnya dan merobek pakaian antariksa yang ia kenakan -dan hampir membuat planet Mars menjadi kuburannya- akibat badai pasir kencang yang menerjang Mars.

Ketika telah sadar dari pingsannya -dengan sakit yang bukan main mendera bagian perut- dan selamat dari kematian konyol di Mars setelah terlempar cukup jauh, ia mencoba menelusuri area sekitar dan menemukan dua hal; Hab masih utuh setelah terjangan badai, dan MAV (kendaraan astronaut untuk keluar dari orbit Mars) tidak ada. Itu artinya teman-temannya telah pergi meninggalkannya -karena mengira ia telah tewas- dan Mark adalah manusia Bumi pertama yang tinggal di Mars.

Dialah satu-satunya penghuni Mars.

Dengan segala keterbatasan perbekalan makanan dan perangkat komunikasi yang rusak, hampir bisa dipastikan jika ia hanya akan bertahan beberapa bulan saja sebelum akhirnya mati di Mars dan menjadi manusia pertama yang terkubur di sana. Namun, berbekal keterampilan sebagai insinyur botani yang dikenal berselera humor tinggi, Mark memulai misi pribadinya untuk tetap hidup dan berusaha menghubungi NASA kembali. Jika ia beruntung tentunya.

Bertahan hidup di tengah keterbatasan memang tidak mudah, apalagi jika sedang berada di Mars. Rintangan demi rintangan berhasil diatasinya, dan Mark mulai yakin dia bisa keluar dari Mars hidup-hidup, tetapi planet ini ternyata menyimpan banyak kejutan untuknya; atmosfer yang tidak bersahabat, badai pasir, kontur planet yang penuh kawah, dan tentunya permasalahan persediaan air serta oksigen. Yang paling parah, Mars hampir membunuhnya saat terjadi ledakan di Hab.

Sementara itu, di Bumi setelah sempat diadakan acara mengenang kematian Mark Watney, Mindy Park menemukan citra permukaan Mars yang menunjukkan lokasi misi Ares 3 (lokasi Mark berada) dimana terdapat tanda-tanda kehidupan. Segera NASA mengambil tindakan dan menyimpulkan Mark masih hidup.

Tapi bagaimanakah cara NASA untuk membawa Mark pulang ke Bumi? Mampukah Mark bertahan hidup di Mars seorang diri dengan keterbatasannya?

——————

Review.

Membaca buku karya dari Andy Weir ini, yang dipenuhi teori-teori ilmiah mulai dari reaksi Hidrogen dan Oksigen serta segala kalkulasinya bagi otak saya yang rada ndablek  ini awalnya memang terasa cukup berat, apalagi ditambah dengan beberapa istilah seperi MAV, MDV, Rover, Hab, Oksigenator, dan istilah lainnya yang belum pernah saya dengar.

Namun, untungnya Andy Weir menghadirkan Mark Watney sebagai tokoh utama cerita ini sebagai karakter yang periang dan penuh rasa humor -meskipun sedang bertaruh dengan maut di Mars, alih-alih emosional sehingga menjadikan The Martian sebagai bacaan yang tetap menarik dan ringan bagi saya meskipun dipenuhi istilah ilmiah yang sering membuat saya kebingungan.

Ya walaupun pada awalnya saya sempat merasa begitu bodoh saat membacanya, namun seiring berjalannya cerita yang diwarnai tingkah konyol serta eksperimen Mark untuk bertahan hidup -yang bisa dibilang cerdas sekaligus nekad, saya pun ikut larut dalam kekonyolan Mark dalam menapaki Mars. Humor ala Mark yang dirancang penulis mampu mengocok perut saya setiap kali  mengikuti aksi Mark.

“Lubang pantatku bekerja sama kerasnya dengan otakku untuk membuatku bertahan hidup” – The Martian, hlm. 27

Seperti saat Mark mencoba menanam kentang dengan menggunakan tanah Mars yang tidak pernah ada kehidupan sebelumnya. Lantas ia mencoba mengakalinya dengan mencampur tanah Mars dengan kotorannya sendiri agar tanah yang ia pakai menjadi subur. Akhirnya, ia berhasil menyulap sebagian area Hab menjadi ladang kentang.

Selain diwarnai humor dan kekonyolan ala Mark, The Martian juga dipaparkan dengan begitu detail. Mulai dari keadaan planet Mars dengan segala kondisi lingkungannya hingga mesin-mesin canggih NASA yang dapat menyokong kehidupan Mark selama berada di Mars. Selain itu, bagi orang awam (seperti saya) buku ini juga dipenuhi dengan teori-teori yang meyakinkan perihal bertahan hidup di Mars. Saya sebut “meyakinkan” karena belum pernah ada manusia yang benar-benar tinggal di Mars, lantas bagaimana mungkin Andy Weir mengetahuinya dan menuliskannya dalam buku ini? Dan siapa yang berani membantah teorinya?

Terlepas dari segala teori-teori fiktif yang dipaparkan Andy Weir dalam buku ini saya rasa ia berhasil mengemasnya dengan begitu baik, sehingga saya pun tidak akan berpikir untuk membantahnya, dan kalau boleh jujur jika nanti saya juga terdampar di Mars maka teori Andy Weir ini yang akan saya pakai. 

The Martian ditulis dari dua sudut pandang, pertama dari sudut pandang Mark lewat catatan harian berupa Log Entry-nya dan komunikasi dia melalui sinyal video/radio dari Mars ke Bumi. Dan yang kedua dari sudut pandang para karyawan NASA -terutama Venkat Kapoor- yang berusaha memandu Mark agar tetap hidup. Kombinasi dua sudut pandang penceritaan ini menjadi menarik, karena pembaca tidak hanya diajak untuk berinteraksi dengan kegiatan Mark selama di Mars yang berpotensi membosankan tapi juga lewat kegiatan NASA yang dengan riuhnya mencari solusi untuk Mark.

Dari segi penerjemahan, Gramedia berhasil menyajikannya dengan sangat baik dan mengemasnya dengan sederhana. Saya rasa itu perlu diapresiasi. Ya, karena saya dengar versi asli The Martian hadir dengan bahasa inggris akademis yang njelimet ditambah dengan istilah khas NASA yang belum tentu bisa dimengeti semua umat.

Namun tidak ada yang sempurna, buku terbitan GPU ini tetap memiliki cacat kecil. Dari yang saya temukan, masih ada kata-kata yang tidak baku dan salah ketik dalam buku ini. Sehingga sedikit mengganggu saya saat membacanya. Berdasarkan hal ini dan ditambah kebingungan karena beberapa istilah yang sempat melanda saya saat membaca buku ini di awal, maka saya hanya bisa memberi rate 4/5 untuk The Martian. Terlepas dari hal itu, The Martian tetap menarik untuk dibaca apalagi diwarnai dengan humor ala Mark yang mampu mengocok perut pembaca.

Bagi saya The Martian adalah buku terbaik untuk dijadikan “pegangan” kalau-kalau kita terdampar di Mars.

Lantas, sudahkah kamu membaca buku ini?

Jangan lupa untuk meninggalkan komentar pada kolom comment  di bawah ini 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s