Review: 1984 – George Orwell

Processed with VSCO

Judul : 1984

Penulis : George Orwell

Penerjemah : Landung Simatupang

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2014 (cetakan II)

Tebal Halaman : 400 hlm

Rate : 4.0/5


“Perang Ialah Damai. Kekerasan Ialah Perbudakan. Kebodohan Ialah Kekuatan” – 1984, hlm. 127

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan  Partai, meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan  perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satir tajam, yang menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan.

1984 menggambarkan bagaimana keadaan sebuah negara di mana pemimpin (Bung Besar yang diwakili oleh Partai) berkuasa penuh atas warga negaranya; di mana fakta terus ditutupi, kebebasan hanya mitos, dokrin dan propaganda sesat terus dijejalkan, yang benar dan pasti benar adalah Partai, segala tindakan yang dianggap menentang harus disingkirkan, dan sebagainya. Dengan slogan sucinya: Perang Ialah Damai. Kebebasan Ialah Perbudakan. Kebodohan Ialah Kekuatan.

Dan sosok Big Brother (Bung Besar) adalah pemimpin yang telah menyelamatkan rakyatnya, seperti yang selalu dan akan selalu diungkapkan Partai. Bung Besar seolah adalah Sang Mesiah baru bagi Oceania.

1984 adalah novel Orwell yang disebut telah mengantarkannya ke kemahsyuran seorang penulis. Siapa yang tidak mengenal George Orwell? Penulis asal Inggris yang terkenal dengan kritik satirnya terhadap sistem sebuah negara yang bobrok; sistem di mana sekelompok elit yang berkuasa atas kalangan bawah, sistem yang dengan lihainya memanipulasi fakta menjadi khayalan semata, sistem di mana nyawa seorang proletar bisa dijual untuk mengisi kantong-kantong tuan tanah, sistem di mana keadilan hanya serupa dongeng sebelum tidur. Sistem-sistem seperti inilah yang sepertinya membuat Orwell geram, dan ia mengkritik dengan tajam lewat sebuah karya.

Cerita 1984 mengambil sudut pandang Winston, seorang anggota Partai yang bekerja sebagai penyunting di Departemen Arsip dari Kementerian Kebenaran, yang selalu berusaha menjadi warga negara yang baik dengan selalu mengikuti aturan Partai. Winston menjalani hari-harinya dengan rutinitas seperti biasa: rumah-kementerian. Tapi kadang, di luar rutinitas itu ia, sebagai anggota Partai, diharuskan untuk menghadiri acara yang disiapkan oleh Partai untuk memupuk “nasionalisme” warganya.

Beberapa acara ini diantaranya adalah dua menit benci, minggu/pekan benci, eksekusi massal, dan lain sebagainya. Acara-acara ini hanya berisi materi, yang diklaim, tentang superioritas Bung Besar dan Partai dalam melayani dan melindungi warga negara dari pihak luar serta pemberontak (konon dipimpin oleh Goldstein) yang berniat merusak Oceania.

Winston yang awalnya hanya patuh terhadap segala aturan Partai akhirnya mulai jengah dengan hal tersebut dan mulai mempertanyakan tentang kebenaran sosok Bung Besar. Di dalam hatinya, Winston ingin sekali memberikan perlawanan yang nyata terhadap kekuasaan Partai pada warga Oceania, namun ia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya secara terbuka. Mengingat segala tindak perlawanan sekecil apapun akan berbuah pembinasaan (dalam novel disebut penguapan) oleh Polisi Pikiran, dan jika seseorang sudah diuapkan, maka berarti ia dianggap tidak pernah ada sama sekali. Keberadaannya tidak diakui, dia hilang dalam sejarah.

Partai juga selalu mengontrol dan mengawasi kegiatan warganya melalui sebuah teleskrin -alat yang mampu merekam gambar dan suara- yang terpasang di setiap sudut tempat, sehingga dapat meminimalisir bentuk perlawanan sedini mungkin. Tidak hanya itu, di berbagai lokasi juga telah disebarkan mikrofon tersembunyi untuk menyadap komunikasi apapun dan Partai juga memiliki Polisi Pikiran yang akan dengan sigap mengamankan seseorang yang dianggap mencurigakan. Dengan kata lain, tidak ada privasi/kebebasan sama sekali bagi para warga Oceania.

“Kebebasan ialah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Jika itu dijamin, semua yang lain mengikuti” 1984, hlm. 100

Sebagai sebuah novel utopia jadul yang terbit tahun 1949, novel ini bagi saya sama sekali tidak jadul dari segi konsep cerita. Malah sebaliknya, novel ini bisa dibilang memiliki konsep yang futuristik -terlebih lagi jika kita membacanya pada tahun 49. Bayangkan saja, kita hidup di sebuah negara yang mengaplikasikan sistem totaliter -dengan segala alat canggih dan konspirasi Partai yang terencana sangat detil dalam mengatur warganya. Sehingga bekerja, makan, minum, berbicara, berpikir, serta segala aktivitas lainnya dikontrol dan diawasi oleh Partai -hal yang membuat rezim Hitler & Stalin terlihat cupu.

Dari alur cerita, 1984 dibagi ke dalam tiga bagian; Bagian pertama, seperti umumnya sebuah novel, merupakan bagian perkenalan. Pada bagian ini pembaca diajak untuk berkenalan dengan Winston -sang tokoh utama- dan jalan pikirannya, lalu dengan Kementerian, juga para anggota Partai atau yang kerap disapa Kamerad, serta dengan segala macam jenis aturan dan rutinitas menjemukan dari Partai.

Bagian kedua, pada bagian ini pembaca ikut menyelami bagaimana pergolakan batin dan pandangan Winston terhadap kebijakan yang dibuat oleh Partai, serta bagaimana kisah cinta terlarang Winston dengan Julia -salah seorang anggota partai mantan mata-mata.

Bagian ketiga, di bagian cerita ini ketegangan mulai meningkat. Pada bagian ini Winston dan Julia ditangkap oleh Polisi Pikiran dan dijebloskan ke penjara untuk diinterogasi, dan Winston sendiri harus “disembuhkan” dari pikiran gilanya yang mempertanyakan kebijakan Partai. Hingga cerita mencapai klimaksnya, yang menentukan bagaimana akhir perlawanan Winston terhadap Partai.

Dari tiga bagian cerita ini, bisa dibilang saya lebih menyukai bagian yang terakhir karena ketegangan cerita yang disajikan oleh Orwell. Selain itu saya juga menyukai bagaimana cara Orwell menggambarkan sebuah negara yang masyarakatnya berada di bawah kendali Pemimpin, dan bagaimana proses pengendalian itu dilakukan, ia menggambarkannya dengan sangat detil. Setidaknya novel ini juga turut membuka mata saya agar jangan sampai dibodohi sekelompok orang hingga akhirnya berada di bawah kendali mereka.

Tapi dari segala nilai plus dari novel ini, ada beberapa hal yang mengganjal bagi saya saat membacanya dan mengurangi rate yang saya berikan, diantaranya:
Kesalahan penulisan kata sehingga terasa janggal bagi saya saat membacanya; juntrungan (hlm. 284), kelungkrahan (hlm. 285), terlayang (hlm. 290), terlutut-berkelejotan-terlumpuhkan (hlm. 295), berleleran (hlm. 303), dan mencucuk (hlm. 321).

Serta bagi saya ending yang tidak sesuai perkiraan. Awalnya saya berpikir Winston akan jadi sosok penentu dalam membangkitkan perlawanan kaum proletar. Tapi ternyata mental dan keyakinannya terhadap konsep freedom yang diimpikannya akhirnya menguap, dan dia malah menyerah lalu berdamai dengan segala dokrin Partai, hingga akhirnya ia memuja Bung Besar -sosok yang ia benci pada mulanya. 

Sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah dengan ending seperti ini, namun yang jadi pertanyaan adalah, point apa yang ingin Orwell kedepankan lewat sosok Winston ini pada akhirnya? Karena jika Winston dianggap sebagai perwujudan sikap perlawanan terhadap rezim otoriter maka itu keliru, karena ia malah menyerah pada akhirnya. Atau ia hanya menjadi gambaran dari penulis bahwa sikap perlawanan yang berapi-api terhadap sebuah rezim pada akhirnya akan layu di hadapan kuasa mutlak sebuah sistem totaliter Partai yang abadi? Dan ini mengerikan. Entahlah, hingga tulisan ini diposting saya masih bingung dengan point Winston pada cerita 1984 ini.

Yah, terlepas dari hal itu semua, 1984 saya rasa novel yang layak untuk dibaca. Ya setidaknya kita mendapatkan gambaran bagaimana tidak menyenangkannya jika hidup kita serba diatur oleh orang lain dan kebebasan hanya sebagai khayalan fantasi belaka, mungkin rezim Orde Baru adalah contohnya. Tentunya kita tidak ingin hal seperti itu terulang kembali, bukan?

O iya selain 1984, novel satir Orwell yang juga tidak kalah terkenal adalah Animal Farm. Menurut saya, 1984 memiliki kesamaan pesan dengan Animal Farm, di mana kedua novel ini sama-sama menggambarkan bagaimana keadaan sebuah masyarakat yang tinggal di sebuah negara dengan sistem pemerintahan yang kotor, hanya saja Animal Farm di buat lebih sederhana dengan menganalogikan jalan cerita melalui para hewan ternak sebagai karakter ceritanya.

Lalu apa kalian juga sudah membaca novel 1984 ini? Atau kalian sudah membaca novel Orwell lainnya?

Hmm, kalau memang iya mungkin kita bisa berbagi pendapat. Jadi, jangan sungkan untuk meninggalkan komentar pada kolom di bawah ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s