Doa Seorang W.S Rendra

Processed with VSCO

Judul : Doa Untuk Anak Cucu

Penulis : W.S. Rendra

Penyunting : Edi Haryono

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2013 (cetakan I)

Tebal Halaman : 105 halaman

Rate : 5/5


….

Amarah dan duka

menjadi jeladri dendam

bola-bola api tak terkendali

yang membentur diri sendiri

dan memperlemah perlawanan.

Sebab seharusnya perlawanan

membuahkan perbaikan,

bukan sekadar penghancuran

….

Itulah sepenggal puisi W.S. Rendra yang berjudul Inilah Saatnya, yang juga dimuat dalam buku ini. Buku ini merupakan kumpulan puisi Rendra yang belum pernah dibukukan, setidaknya begitulah kalimat yang tertera pada cover buku ini.

Sejujurnya aku belum akrab dengan yang namanya puisi, bahkan penyair-penyair legendaris Indonesia pun tidak banyak yang aku ketahui termasuk Rendra, tetapi beberapa waktu terakhir ini batinku seperti ingin lebih mengenal sastra. Aku ingin lebih mengenal puisi-puisi dan penyairnya, dan itu ku mulai lewat buku ini.

Memang, sebelumnya ada beberapa kumpulan puisi yang sudah aku baca (aku tidak sebutkan judulnya), tetapi setelah membacanya aku tidak merasakan apa-apa dari puisi-puisi tersebut. Entah karena aku yang belum peka terhadap sastra atau memang puisinya yang tidak memberikan apa-apa pada ku, yang jelas aku merasa biasa saja.

Tetapi hal yang berbeda justru aku rasakan dari puisi-puisi Rendra dalam buku ini. Setiap kata yang termuat dalam tiap bait puisinya seperti memiliki daya magis tersendiri yang mampu memikat dan membawa pembaca larut dalam keindahan tulisannya. Meskipun pada awalnya aku sempat sulit untuk menyesuaikan ritme saat membaca puisi dalam buku ini, karena sebagai orang awam aku memang tidak begitu tahu cara melantunkan puisi. Tapi setelah aku baca lembar demi lembar karya Rendra ini, aku mulai menemukan sensasi kenikmatan di dalamnya. Apalagi setelah aku mendengarkan lewat youtube  bagaimana Rendra membacakan puisinya sendiri.
-seperti dalam link ini- (https://www.youtube.com/watch?v=58rEGVLqVIU).

Hasilnya… parah, aku benar-benar jatuh cinta.

Jika saat ini -kebanyakan- puisi dilantunkan dengan iringan musik untuk menambah kesyahduan pembacaannya, maka tidak untuk puisi Rendra. Saat ia membacakan puisinya sendiri, ia sepertinya tidak memerlukan sentuhan musik untuk mengiringi, karena tanpa musik pun puisinya memang sudah indah. Mungkin karena kalimat-kalimat dalam puisinya memang musikal, sehingga tidak perlu iringan musik lagi untuk dinikmati.

Setelah mendengarkan Rendra membaca puisinya via youtube, aku seperti merasakan bagaimana emosi Rendra yang tertuang dalam puisinya. Perasaan cinta, marah, sedih, dan pengharapan yang ia curahkan seolah merasuk ke dalam dada. Inilah yang aku rasakan -sebagai seorang awam- saat membaca dan mendengarkan puisi dari Rendra ini dibawakan. Ada sedikit rasa penyesalan yang sempat terbesit karena aku baru membaca puisinya sekarang.

Kita kembali ke buku ini. Awalnya aku sempat mengira kalau isi buku ini adalah puisi yang bertemakan religi, mengingat judul yang dicantumkan adalah Doa Untuk Anak Cucu. Tapi ternyata aku salah, haha. Dari pengakuan editor yang juga bertugas sebagai pengumpul puisi Rendra ini, pemilihan judul tersebut karena menurut sang editor -dari yang pernah ia simak- puisi Rendra merupakan “yoga bahasa” atau semacam ruang ibadah/ruang sujud bagi Rendra sendiri sehingga bisa diartikan sebagai Doa.

“Dalam kuliah itu ia -Rendra- mengatakan, bahwa puisi-puisinya merupakan yoga bahasa. Yaitu, semacam ruang ibadah. Dan kemudian ia lebih tebal mengatakan: puisiku adalah sujudku” – hlm. xii

Dan perihal Untuk Anak Cucu, menurut editor, Rendra pernah ditanya mengapa Anda begitu berani melancarkan protes terhadap praktik pembangunan oleh pemerintah? dan lalu dijawab;

“Saya protes dan bersikap kritis terhadap pemerintah bukan lantaran saya berani. Malah sebaliknya, karena saya takut apa yang bakal menimpa anak cucu di masa depan” – hlm. xiii

Kiranya itulah alasan kenapa buku ini berjudul Doa Untuk Anak Cucu.

Sementara itu untuk desain cover buku ini sendiri menurut ku tidak masalah, sederhana namun cukup keren, walaupun aku tidak paham dengan makna gambar kendi dan warna pastel sebagai latarnya. Kemudian, pada bagian akhir buku ini juga ada dimuat mengenai biografi singkat W.S. Rendra, setidaknya cukuplah sebagai permulaan bagiku untuk mengenal Rendra. Lalu di lembaran akhir, buku ini juga memuat potret Rendra saat sedang membacakan puisinya dalam berbagai kesempatan. Wow, dari foto tersebut menurutku Rendra memang sosok yang sangat kharismatik dan gagah. Sosok sastrawan sejati, salut.

Sementara untuk isi dari puisi dalam buku ini sendiri aku tidak bisa berkomentar banyak, karena sebagai orang awam aku tidak begitu tahu mengenai unsur-unsur dalam puisi, yang jelas puisi-puisi Rendra ini memang indah dan sarat akan makna. Dan aku menyukainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s