Review: The Revenant – Michael Punke

Processed with VSCO

Judul : The Revenant

Penulis : Michael Punke

Penerjemah : Reni Indardini & Putro Nugroho

Penerbit : Noura Books

Tahun Terbit : 2016 (cetakan I)

Tebal Halaman : 385 hlm

Rate : 4.3/5


“Pembalasan bukanlah milikmu, tetapi berilah ruang untuk kemurkaan: karena telah tertulis, Pembalasan hanyalah milik-Ku; Akulah yang akan menuntut balas, firman Tuhan” – The Revenant, hlm. 1

Spoiler Alert!!!

Sekelompok tim ekspedisi diketuai oleh Kapten Andrew Henry yang bertugas dalam bisnis perdagangan bulu di sebuah perusahaan milik William H. Ashley, Rocky Mountain Fur Company, di dataran St. Louis -Amerika- pada abad ke 19 tengah mengalami kendala dan keterlambatan di daerah Perbukitan Black, dekat Sungai Grand -perbatasan antara Dakota Utara dan Selatan. Keterlambatan ini terjadi karena di tengah perjalanan, Henry dan anak buahnya mendapatkan serangan dari suku Indian yang terkenal tidak ramah terhadap para penjelajah/pencari jejak.

Akibat serangan ini tim ekspedisi yang awalnya berjumlah seratus orang kini menyusut menjadi tak lebih dari sebelas orang saja, ditambah lagi persaingan dengan kelompok penjelajah lain yang berasal dari Inggris yang juga memiliki tujuan sama dengan tim Henry, sehingga penundaan sekecil apapun akan merugikan kelompok ini.

Kapten Henry merupakan seorang penjelajah yang sudah sangat berpengalaman dan telah menghabiskan hampir separuh umurnya dalam bisnis perdagangan bulu ini. Rombongan yang kini hanya tersisa kumpulan pria minim pengalaman -kecuali Hugh Glass dan Black Harris- kian menambah beban di pundak Henry. Dengan bahaya di alam liar yang senantiasa mengintai menjadikan tanggung jawab Henry akan kesuksesan ekspedisi ini kian besar, dan bayangan kegagalan terus saja menghantuinya.

Pada 24 Agustus 1823, kegagalan ekspedisi ini pun kian menjadi nyata. Hugh Glass, anggota tim yang disegani Henry mengalami satu kejadian yang mengerikan. Ketika sedang melakukan kegiatan berburu, Glass tanpa sengaja bertemu dengan seekor induk beruang Grizzly yang tengah mencari makan. Sontak, mengira Glass adalah ancaman, induk beruang itu pun menggila dan menyerang Glass. Luka cabikan di kulit kepala, leher, pundak, punggung, serta lengan dan kaki pun tidak terelakkan.

Glass sekarat, ibarat sedang bertaruh dengan maut. Kejadian naas ini membuat Henry berpikir keras, di satu sisi ia memiliki tanggung jawab untuk keberhasilan misi mereka. Sementara di sisi lain, ia enggan meninggalkan Glass begitu saja dan membiarkannya mati di tengah hutan, meskipun ia -Henry- sadar bahwa kemungkinan Glass bertahan hidup sangatlah kecil. Dan saat itu Glass hanya menjadi beban bagi tim mereka.

Pilihan sulit pun dibuat. Henry beserta anggota kelompok lain meneruskan perjalanan untuk mengejar keterlambatan mereka, sementara dua orang sukarelawan dari kelompok penjelajah ini -Fitzgerald dan Bridger- ditugaskan untuk tetap tinggal dan menunggu Glass dengan imbalan bonus upah $70 saat misi mereka selesai. Hanya untuk menunggu Glass mati lalu menguburnya dengan layak, dan mereka bisa kembali mengejar rombongan Henry. 

Namun, Glass yang awalnya diprediksi akan mati dalam 2-3 hari tidak juga kunjung meregang nyawa. Hingga pada suatu hari, Fitzgerald mendapati lima orang anggota suku Indian Sioux sedang berburu di dekat kemah mereka, di tepian Sungai Grand. Tanpa pikir panjang, Fitzgerald bergegas kembali ke kemah dan memutuskan untuk pergi tanpa memedulikan nasib Glass. Bridger yang mulanya ragu meninggalkan Glass, akhirnya memutuskan untuk kabur bersama Fitzgerald daripada mati konyol dimutilasi suku Indian.

Glass yang mulai siuman, mendapati dua rekannya sedang berkemas dan menjarah seluruh perlengkapan berburunya -termasuk belati dan senapan Anstadt kesayangannya- lalu pergi meninggalkan Glass teronggok menanti maut. Dengan dendam yang menguasai -karena merasa telah dikhianati oleh dua orang itu, Glass pun berjuang sebisa mungkin untuk tetap hidup dengan menyeret tubuhnya ratusan mil untuk memberi perhitungan pada dua rekan yang telah mengkhianatinya. Seperti kata pepatah lama; Dendam harus dibayar tuntas.

“If he only made three miles a day, so be it. Better to have those three miles behind him than ahead” ― The Revenant.

The Revenant merupakan kisah yang mendebarkan tentang pengkhianatan, keserakahan, juga perjuangan antara hidup dan mati dari seorang Hugh Glass -penjelajah yang telah melalui perjalanan luar biasa di dataran Amerika pada abad ke 19.

Secara keseluruhan novel ini bisa dibilang sebagai novel pembalasan dendam, jelas saja, Glass rela susah payah menyeret tubuhnya ratusan mil hanya untuk memberi perhitungan kepada Fitzgerald dan Bridger yang telah mengkhianatinya, juga hanya untuk merebut kembali Anstadt-nya. Sejujurnya, awalnya saya sempat merasa kalau dendam kesumat Glass ini kok cukup konyol, masa iya Glass berkelana jauh-jauh cuma untuk merebut kembali senapannya, memangnya tidak ada senapan lain lagi?

Setidaknya itulah pikiran pertama saya tentang dendam Glass, ya karena dari penjabaran dalam buku ini memang disebutkan alasan Glass adalah untuk merebut senapannya kembali. Tapi setelah saya memahami keadaan Glass, pendapat saya berubah, niatnya membalas dendam bukan hanya soal senapan saja tapi soal mengembalikan harga dirinya sendiri. Dan saya rasa ini cukup masuk akal, karena mungkin pada masa itu -bagi seorang pria- harga diri adalah hal yang sangat sakral dan harus dipertahankan/direbut kembali.

Sebagai kisah fiksi dengan berlatar belakang sejarah, The Revenant rasanya juga cocok kalau disebut sebagai sebuah jurnal perjalanan -karena pendiskripsian detil dari Punke disertai risetnya yang serius, sehingga pembaca seperti diajak untuk ikut menelusuri kembali jejak para penjelajah pada masa itu dalam tiap adegannya.

Selain menyajikan cerita petualangan yang menarik, novel ini juga berhasil menampilkan bagaimana ganasnya alam liar Amerika pada abad 19, juga perseteruan klasik antara suku Indian-penjelajah-prajurit AS. Selain itu Punke juga berhasil memaparkan alur cerita dengan penjelasan yang rinci dengan tetap merujuk pada sejarah asli para penjelajah Amerika dahulu. Dengan cara penjelasan yang rinci tersebut dan didukung narasi yang dituturkan oleh penulis -yang menurut saya juga pas, saya turut merasakan ketegangan saat Glass sedang berseteru dengan seekor Grizzly. Sensasi pertikaian dua makhluk ini terasa begitu nyata di benak saya, selain itu keseruan Glass dalam bertahan hidup dengan menyusuri Sungai Grand hingga ke Big Horn dan tiba di Fort Atkinson juga tidak kalah seru. Sensasi badai salju, deru peluru dan anak panah suku Indian juga terasa nyata hingga turut menambah ketegangan yang saya rasakan.

Yang patut diacungi jempol adalah bagaimana keseriusan Punke dalam menggarap novel ini. Di bagian catatan kepenulisannya, Punke menerangkan kalau ia terlebih dahulu melakukan riset mendalam mengenai sejarah para penjelajah dan berbagai tempat kejadian di dalam cerita, serta ia juga benar-benar membuat percobaan sendiri untuk membuat beberapa perangkap yang dibuat para penjelajah masa itu. Tidak heran jika membaca The Revenant kita seperti sedang ikut bertualang bersama Glass di alam liar serta merasakan bagaimana eksotis dan mengerikannya dataran Amerika saat itu.

“tiada yang lebih tuli dibandingkan orang yang tak mau mendengar” – The Revenant, hlm. 368

Kemudian poin yang saya suka adalah dengan yang terjadi pada diri Glass. Glass yang awalnya begitu ngotot dan gelap mata untuk menuntut balas pada Fitzgerald akhirnya memilih berdamai pada dirinya sendiri dan merelakan apa yang sudah terjadi. Ia memutuskan bahwa akan sia-sia jika hidupnya hanya dihabiskan untuk membalas dendam, padahal -sebagai penjelajah- masih ada dataran luas di depan matanya yang seolah meminta untuk dijamah.

Ya, saya setuju dengan hal ini, dendam hanya akan menghancurkan diri kita sendiri pada akhirnya dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

Terlepas dari semua hal di atas, masih ada hal yang mengganjal bagi saya. Pertama dari segi cover, menurut saya novel ini cover-nya kurang eyecatching. Dari buku yang saya beli, saya merasa latar dalam kover ini tidak begitu jelas dan saya juga mendapati tulisan yang tercetak seperti pecah, kesannya desain kover ini seperti dicetak dengan gambar yang resolusinya kecil. Dan kalau boleh memilih saya lebih suka jika kover novel ini disesuaikan dengan poster promo filmnya, mumpung ada si Leonardo.

                

Kemudian, bagian awal cerita novel ini menurut saya juga terasa masih kabur, terlebih lagi dengan banyaknya karakter yang disajikan secara bersamaan sehingga latar belakang mereka tidak terpaparkan secara merata. Dan juga konflik awal perseteruan antara suku Arikara dengan regu Ashley -yang terus mengiringi kesialan Kapt. Henry- juga menurut saya tidak begitu jelas. Sehingga saya tidak terlalu menangkap apa awal mula pertikaian mereka. Meskipun pada mulanya The Revenant terkesan membingungkan, sejalan dengan ceritanya, The Revenant mulai mempunyai alur yang stabil di bagian pertengahan dan berlanjut hingga akhir cerita.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bagaimana lika-liku perjalanan Glass dalam menuntut balas. Dan menurut saya novel ini patut untuk menjadi pilihan pembaca, khususnya bagi mereka yang suka cerita berlatar sejarah Amerika abad 19. Selain itu pembaca bukan serta merta menjadi penonton, justru ikut dilibatkan untuk masuk ke dalam dunia yang dimaksud oleh Punke. Pembaca diajak untuk kembali mengenal alur perdagangan bulu yang tidak lagi akrab di masyarakat Amerika. Melalui bukunya Punke mengajak pembaca untuk mengenal sejarah Amerika yang seolah sudah terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s