Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) – Djenar Maesa Ayu

Jangan Main dengan Kelaminmu - Djenar Maesa Ayu

Judul : Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)

Penulis : Djenar Maesa Ayu

Kategori : Kumpulan Cerpen (Dewasa)

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2005 (cetakan V)

Tebal Halaman : 121 hlm

Rate : 4.0/5


“Saya hanya main-main, Ma… saya cinta kamu. Beri kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan saya” – Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), hlm. 12

Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak. Saya sangat tahu aturan main. Bagi pria semapan saya, hanya dibutuhkan beberapa jam untuk main-main, mulai main mata hingga main kelamin. Bayangkan! Berapa banyak main-main yang bisa saya lakukan dalam lima tahun?

INI TIDAK MAIN-MAIN!

Buku  Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) merupakan sebuah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu, dalam buku ini terdapat sebelas macam cerpen dengan konten yang -menurut saya- cukup kontroversial. Bagaimana tidak, judulnya saja pun sudah kontroversial, di luar judul cerpen kebanyakan. Lewat buku ini, Djenar sepertinya mendobrak sebuah batas dalam mengangkat cerita yang bagi sebagian orang terlalu tabu untuk dibahas. 

Menurut saya -selain kontroversial, Djenar menyodorkan kepada pembaca kumpulan cerita yang juga unik, jujur, dan berani. Sehingga tidak heran jika banyak yang tidak menyukai isi buku ini, tapi juga banyak yang menyukai buku yang ditulis oleh Djenar -saya salah satunya. Saya menyukai kumpulan cerpen ini karena menurut saya gaya penulisan Djenar yang tidak biasa, tidak lazim, dengan alur maju yang semula stabil lalu berbalik mundur, seperti kaset yang direwind. Selain itu ada juga cerita yang ditulis dengan teknik Staccato yang seolah bernada “dada dada tada tada”  (saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya). Saya juga menyukai bagaimana kejujuran Djenar dalam menuturkan tiap konsep cerita dan konflik batin dari para karakter, yang bersentuhan dengan problema sosial dan kesusilaan masyarakat pada umumnya. Djenar juga menuturkannya secara gamblang/tidak jaim, apa adanya, ia membahas hal-hal yang biasanya tabu di masyarakat namun dengan sudut pandang berbeda, pembaca seperti diajak untuk menyelami latar belakang para karakter dengan berbagai konfliknya sehingga memperluas sudut pandang kita terhadap cerita yang disajikan.

Sebenarnya pada postingan kali ini saya tidak bisa memberikan review yang baik, karena saya sendiri pun bingung ingin membahas cerpen-cerpen ini dari segi yang mana, terlebih lagi dalam buku ini pun sudah disertakan pengantar yang berbobot dari Richard Oh yang saya pikir dia kupas secara menyeluruh dan cukup mewakili gambaran tentang buku ini secara utuh. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menulis ulang bahasan Richard tersebut dalam postingan kali ini, juga kiranya sebagai pertimbangan yang objektif bagi pembaca jika nantinya berniat untuk membaca kumpulan cerpen Djenar ini.

Berikut pembahasannya. 

Dalam kumpulan cerpen terbarunya, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Djenar Maesa Ayu menampilkan satu dunia yang dipadati manusia terluka, marginal, dan terkhianati. Tak ada pijakan kokoh dalam dunia ini. Komitmen dapat berubah setiap saat, ikatan tidak mengikat, dan logika tak punya validitas. Karakter-karakter yang bermunculan dalam cerpen-cerpen tersebut boleh dikatakan hampir semuanya antihero. Jangan berharap mereka akan membawa berita segar. Tapi jangan pula mengira mereka mengemis pengertian ataupun empati kita. Tidak. Mereka eksistensialis, karakter-karakter ini, terasa sekali kita mengikuti mereka dalam suatu perjalanan yang krusial sehingga kita belajar sedikit tentang diri kita, beban-beban yang ditumpukkan di bahu kita oleh teman-teman kita, pasangan kita, atau lingkungan pergaulan kita.

Dalam cerpen berjudul Saya di Mata Sebagian Orang, tokoh utamanya menghardik masyarakat yang mendakwanya dengan kebenaran seseorang yang merasa berhak untuk memilih cara hidupnya:

”Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian orang menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak merasa murahan!”

Setelah pembelaan ini, karakter saya kemudian menceritakan bagaimana ia berteman dengan lelaki dalam keintiman pertemanan itu, ia pun bersetebuh dengan mereka. Tentu saja ia tidak melakukan itu dengan hanya satu teman, tapi dengan semua temannya. Perilaku yang tentu saja tidak akan mengundang simpati kita, tetapi memang bukan simpati yang diharapkan. Karena dalam keadaan sekarat pun pada akhir cerpen itu, ia masih berang dan membela cara hidupnya.

Ini adalah salah satu paradoks karakter-karakter Djenar yang kadang membuat kita gemas dengan kenaifannya. Dan dalam kegemasan kita atas kenaifannya itu, kita sekaligus merasakan kegetiran jiwa karakter yang terlihat nyata dalam pembelaan yang begitu gigih untuk eksistensinya. Baginya, kebebasan adalah segalanya, sekalipun kebebasan itu harus dibayar dengan jiwanya.

Moral bukan merupakan pegangan atau sesuatu yang sakral bagi karakter-karakter dalam cerpen ini. Moral malah diperolok dalam satu cerpen yang berjudul Moral. Di sini moral dianggap seperti barang obralan seharga lima ribu rupiah tiga! Prinsip-prinsip pribadi, keutuhan individualisme, adalah kode etik pribadi, atau hak penuh masing-masing karakter tanpa ada kompromi.

Kemudian kita juga mendapati kesan kuat dalam beberapa cerpen seperti Mandi Sabun Mandi, Penthouse 2601, dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), kalau sang penulis menampilkan berbagai adegan secara gamblang untuk mengomentari tentang penyimpangan perilaku, pengkhianatan bersilang, dan kesemuan hidup metropolitan. Seperti dalam Mandi Sabun Mandi, di mana Meja dan Cermin dalam kamar motel menjadi saksi pengkhianatan bersilang lelaki dan pacar gelapnya. Sophie, sang pacar gelap, mengomentari sewaktu melihat Si Mas mandi tanpa memakai sabun motel.

“Kenapa Mas, takut ketahuan istri kalau wangi sabunnya beda?” – Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), hlm. 18

Kemudian dalam Penthouse 2601, Djenar menggambarkan satu impian murni menjadi kandas karena dicemari oleh para tamu yang berlaku seronok dalam salah satu kamar penthouse sebuah hotel berbintang. Kata-kata yang cukup pedas dari penulis yang biasanya lebih suka bermain dengan metafora dan frasa ekspresi yang kreatif termuat dalam cerita ini.

Sementara dalam cerpen Ting! Djenar mengupas tema yang sama -kesenjangan sosial- dengan pendekatan yang lebih menarik. Ia membiarkan kita melihat sendiri kenyataan yang memilukan itu dan mengambil kesimpulan sendiri. Kali ini Djenar juga terkesan cukup bermurah hati pada karakternya, di mana sangat jarang ditemukan dalam cerpen-cerpen lain di buku ini. Ia memberikan secercah harapan bagi seorang pekerja seks yang sepertinya terperangkap dalam kehidupan tanpa ujung.

Diceritakannya tentang sang tokoh penghibur yang sedang “cuti” itu ketika berada dalam elevator yang menuruni lantai demi lantai. Sepanjang perjalanan menuju ke lantai yang ditujunya, kita ikut merasakan kerisihannya pada orang-orang yang menatapnya dengan sorotan mata mendakwa, kecemburuan terhadap kelengkapan kebahagiaan satu keluarga yang tak pernah ia rasakan, juga rasa ketidakadilan pada nasib yang dilimpahkan pada dirinya. Tetapi semua kepedihannya lenyap ketika ia disambut di depan pintu rumah oleh anaknya dengan teriakan, “Mama…”

Dambaan akan kehidupan normal, cinta seorang ibu, dan kesempurnaan kebahagiaan keluarga yang lengkap, terbersit dalam beberapa cerpen Djenar. Seperti dalam cerpen Penthouse 2601, sebuah kamar mewah yang merasa kesepian dalam kemewahan semu, karena ia hanyalah tempat hiburan bagi orang-orang berduit. Jauh dari bayangan sebelumnya, yaitu kamarnya akan dihuni oleh keluarga bahagia atau pasangan yang sedang berbulan madu.

Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) menurut saya -Richard Oh- perlu dibahas bersama dengan dua cerpen lainnya, yakni Staccato dan Saya adalah Seorang Alkoholik! Ketiga cerpen ini ditulis dengan gaya penuturan yang sangat eksperimental, khas inovasi Djenar dengan mengandalkan pengulangan, mengitari satu titik sentral cerita dan mengikis terus hingga ke esensi permasalahan. Kadang seperti dalam Saya adalah Seorang Alkoholik! teknik rewind dipergunakan hanya untuk mendapatkan efek dunia seorang alkoholik yang tak jelas ujung pangkalnya. Kemudian cerita Staccato, seperti judulnya ditulis dengan efek staccato, dada dada tada tada.

Sementara Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), dirancang dalam struktur penceritaan yang rumit, hubungan silang antara tokoh suami, istri, pacar gelap, dan sahabt sang suami, melalui pengakuan masing-masing tokohnya.

Ketiga cerpen ini merupakan suatu pembaruan bagi pengucapan narasi dalam perkembangan sastra dewasa ini. Dengan memutarnya menjadi satu cerpen yang bukan saja menakjubkan, Djenar memutarnya menjadi satu cerpen yang bukan saja menakjubkan dalam cara pengucapannya, tetapi juga efek keseluruhannya sama sekali tidak seperti cerpen-cerpen biasa.

Keseluruhan cerpen disusun dari paragraf ke paragraf dengan penuturan fakta yang diulang-ulang hingga ke titik akhir cerpen di mana jati diri keempat karakter ini terbongkar, setelah tentunya, cerpen ini dibaca beberapa kali.

“Saya hanya main-main, Ma… saya cinta kamu. Beri kesempatan saya untuk memperbaiki kesalahan saya” Ucap sang suami.

“Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar” Ucap sahabat sang suami

“Saya tidak main-main. I’m leaving you…” ucap pacar gelap sang suami

“Saya tidak main-main. I’m leaving you…” ucap istri sang suami.

Merancang cerpennya dengan kerangka seperti ini, Djenar berhasil mencipatakan satu dampak yang memberi nilai tambah. Efek satu dunia di mana para karakternya bermain-main dengan kata dan manipulasi pernyataan yang tampak amat nyata.

*

Bagaimana? Pembahasan dari Richard Oh benar-benar memberikan gambaran secara menyeluruh terhadap buku ini, bukan?

Richard juga mengungkapkan kalau dalam perkembangan fiksi dewasa ini, di mana segala cara bernarasi sudah pernah ditempuh penulis sebelumnya, originalitas dalam pengucapan menjadi sangat penting bagi penulis yang ingin memisahkan diri dari penulis lainnya, dan Djenar memiliki keunggulan ini dalam bukunya.

Oh, sebagai tambahan dari saya, dari sebelas cerpen yang dimuat ada enam cerita pendek yang saya sukai. Di antaranya ada Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Mandi Sabun Mandi, Moral, Staccato, Ting! dan Penthouse 2601. Enam cerpen ini menurut saya memiliki keunikan dari segi ide cerita, narasi, plot, dan konflik tiap karakter yang dikemas oleh Djenar, ditambah dengan kejujuran dia dalam menuliskannya sehingga -tidak mau tidak- dalam membacanya saya merasa tidak ingin melewatkan satu lembar pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s