Sial!

KESEPIAN 1

Aku kembali merasa tak berguna.

Aku kembali merasa hina.

Aku kembali merasa tidak berdaya.

Perasaan ini, seolah setan-setan kembali menghinggapiku. Berseliweran di dalam diriku. Membuatku -bukan lagi mengajak- untuk selalu bertindak di luar adat.

Batinku selalu mengetuk, untuk terus berbuat lebih, berbuat sesuatu yang bermanfaat. Tapi otakku menolak, berkata lain. Ia racuni pikiranku dengan segala limbah kotor, segala yang berbau negatif. Sehingga tubuhku tidak lagi mau menuruti kata batinku, meskipun ia terus mengetuk bahkan menggedor-gedor keras untuk membangunkanku.

Tapi aku seperti mati rasa. Tubuhku seolah bukan lagi milikku.

Perasaan kecewa, marah, dengki. Selalu menghiasi, menggelayutiku ke mana pun aku melangkah.

Aku ingin lari. Aku ingin bersembunyi. Aku takut. Aku takut dibuatnya.

Aku merasa sendirian. Duduk merengkuh di sudut ruang gelap, tidak berani menatap. Aku sendirian di ruang sepi ini. Aku takut. Aku merasa ringkih. Seolah kegelapan menelanku secara perlahan.

Apa aku harus tetap di sini? Berdiam seolah mati? Atau berdiam sampai mati?

Aku lelah, aku merasa sendiri. Menghadapi segala ketakukan yang melemahkanku. Aku lelah. Lantas, bagaimana akhirnya?

Apa aku akan menghilang dengan sendirinya? Hilang tergerus oleh waktu?

Ah, sial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s