[Review] Anak Semua Bangsa: Periode Turun Ke Bawah Untuk Mengenal Bangsa Sendiri

img_20160916_133241

Judul : Anak Semua Bangsa

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Tahun Terbit : September 2011 (Cetakan 13)

Rate : 4.8/5


“Mengambil milik tanpa izin: pencurian, itu tidak benar, harus dilawan. Apalagi pencurian terhadap kebebasan kita” – Anak Semua Bangsa, hlm. 5

Sinopsis:

Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan selingkungan bangsanya yang kerdil.

Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga Dela Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, nertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Spoiler Alert!

Setelah selesai dengan Bumi Manusia -walaupun sempat terseok seok- sulit rasanya bagi saya untuk tidak melanjutkan ke buku Anak Semua Bangsa ini, mengingat konflik yang menyertai Minke, Annelies, serta Nyai Ontosoroh masih menggantung, tidak jelas akan seperti apa akhirnya. Pada bagian akhir Bumi Manusia, pembaca tentu masih ingat kejadian di mana Annelies harus dibawa paksa ke Nederland dan berpisah dari Minke serta Nyai Ontosoroh, sebagai bagian dari proses hukum yang harus mereka hadapi akibat ada klaim harta warisan dari Anak sah mendiang Tuan Mallema, Ir. Maurits Mallema, seorang perwira angkatan laut Belanda.

Jika di Bumi Manusia, Minke masih memandang Eropa dan segala kebudayaannya sebagai suatu kebanggaan, maka dalam sequel ini kita akan melihat bagaimana pergolakan batinnya akan semua itu, hingga akhirnya apa yang semula ia bangga-banggakan itu runtuh tanpa sisa. Alih-alih memandang Eropa sebagai bangsa beradab, Minke -dalam buku ini- justru melihat Eropa tidak lain hanya sebagai sosok penjajah yang mampu merampas apapun yang mereka inginkan. Dan dendam Minke pada Eropa pun semakin menjadi, terlebih setelah perlakuan orang-orang Eropa totok yang mengakibatkan istrinya, Annelies, meninggal di Nederland dalam sakit yang dideritanya.

Semakin dalam pembaca mengikuti alur cerita buku ini, semakin dalam pula kita turut memahami bagaimana kebiadaban Eropa terhadap pribumi pada masa kolonial, hingga akhirnya membuka pandangan Minke yang selama ini tersapu kabut megahnya sosok Eropa di matanya. Kemudian konflik semakin kentara yang terjadi pada petani tebu -Trunodongso- di Tulangan, Sidoarjo, juga di sajikan dengan apik dalam buku ini. Sebagai gambaran terhadap kehidupan pribumi yang hidup dalam ketakutan dan cekikan Tuan Administratur pabrik gula, dan tangan-tangan kolonial yang kian menjadi. Sehingga keluarga ini pun hidup dalam kemelaratan, tanpa berani untuk bermimpi akan indahnya kehidupan walau hanya secuil pun.

Sepertinya, keadaan macam keluarga Trunodongso ini juga masih terdapat di sekitar kita pada masa sekarang ini. Dimana masyarakat hidup dalam tekanan akan kebutuhan hidup dan rasa aman, yang akhirnya membatasi ruang gerak dan kemajuan berpikir masyarakat itu sendiri.

Keadaan hidup seperti keluarga Trunodongso inilah yang coba dibela oleh Minke, dalam buku ini, melalui tulisan-tulisannya. Sebagai seorang yang berpendidikan, ia merasa perlu untuk ikut andil dalam permasalahan ini, sehingga praktik pemerasan oleh para kolonial -baik totok maupun peranakan- tidak bisa menjangkau kaum pribumi lagi. Praktik semacam inipun kiranya juga masih terus berlangsung hingga zaman milenium ini. Tanpa pikir panjang, atas dasar kepentingan ego pribadi dan golongan, segala cara dan alasan dibenarkan untuk mengambil segala yang bukan haknya.

Terjajah di tanah sendiri, bayangkan!

Lalu, selain kisah miris petani tebu di Tulangan tadi, adalah bagian terakhir dari buku ini yang menurut saya juga dikemas dengan apik oleh tangan dingin Pram. Bagian yang saya maksud adalah saat Nyai Ontosoroh bermaksud mengadakan “pesta penyambutan” untuk kedatangan Ir. Maurits Mallema ke Wonokromo, kediaman Nyai dan Minke. Dalam pesta penyambutan ini, Nyai menugaskan Minke untuk mengundang si pelukis Perancis; Jean Marais beserta Maysaroh, anaknya, serta Kommer si jurnalis berpandangan liberal dari surat kabar di Semarang. Turut pula Darsam, penjaga keamanan di perusahaan Nyai.

“Kesulitan-kesulitan tidak selamanya bisa diselesaikan dengan parang dan kemarahan” – Anak Semua Bangsa, hlm. 259

Yang menarik adalah, dengan berkumpulnya orang-orang ini dalam pesta penyambutan, yang tidak lain hanyalah orang biasa jika dibandingkan dengan pangkat Ir. Maurits Mallema, justru mampu membuat Eropa yang beradab itu mati langkah tanpa mampu membalas kata. Dari hal ini, yang dapat saya tangkap, menunjukkan bahwa kalaupun kita sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk melawan kecuali hanya mulut saja, maka mulut pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai senjata perlawanan dalam mempertahankan hak milik kita. Dan dengan kata-kata yang lantang, alih-alih berhasil mengusir Nyai dan Minke dari kediamannya, Ir. Maurits Mallema justru pulang dengan kepala tertunduk.

Selain dari alur cerita yang menarik, dalam buku ini penggambaran yang terhampar jelas juga menjadi daya tarik tersendiri. Pram berhasil menampilkan bagaimana banyaknya gambaran keburukan dan ketidak adilan yang dilakukan oleh pihak-pihak penguasa terhadap golongan bawah. Dalam roman ini, Minke menjadi seorang yang mencoba belajar hingga terjun langsung dan bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari rakyat pribumi sebagai bagian dari komitmennya untuk dapat mengenal bangsanya sendiri dengan lebih baik. Hingga ia dapat menemukan kebenaran akan apa yang terjadi dengan bangsanya tersebut.

Dan pelajaran yang dapat diambil dari sikap Minke ini saya rasa adalah, jika kita ingin benar-benar mengangkat bangsa ini ke tingkatan yang lebih baik, maka kita harus mau untuk benar-benar mengenali negeri ini bahkan hingga ke tingkat paling dasar sekali pun. Bukan malah berleha-leha mendongakkan kepala jauh ke Barat dan mengagungkan negeri yang tidak terpaut nasib dengan kita.

“Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan bagi setiap orang yang berpikir” – Anak Semua Bangsa, hlm. 522

Melalui buku ke dua dari Tetralogi Buru ini, Pram sukses menyuguhkan drama kehidupan yang menarik, namun kali ini bukan hanya tentang Minke seorang. Kita akan diajak untuk melihat nasib orang-orang lain di sekitarnya, yang kebanyakan adalah pribumi: masyarakat desa Tulangan. Lewat beberapa tokoh baru, Minke mulai mengenal sesamanya serta kesulitan hidup mereka.

Sahabat-sahabat yang sejak awal menyertai Minke, tetap ada di buku kedua ini yang mengantarkan Minke pada perenungan panjang mengenai perannya bagi pribumi di Hindia, juga betapa sulit dan rumitnya posisi sebagai seorang yang terpelajar dan mengagungi segala yang berbau Eropa, serta sebagai pribumi yang harus berpikir untuk berjuang demi bangsanya agar lepas dari cengkeraman kolonial  yang semakin memeras habis saripati tanah kelahirannya. Hal inilah yang diulas dengan tuntas oleh tangan dingin Pram melalui tokoh Minke sebagai pribumi, bukan Eropa.

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia seorang sarjana” – Anak Semua Bangsa, hlm. 522

pram

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s