[Review] A Clash of Kings: Ketika Westeros Terlalu Sempit Untuk 5 Orang Raja

3487c9cb5e581d46d9c8cc184114175a1

Judul : A Clash of Kings (Peperangan Raja-Raja)

Penulis : G.R.R. Martin

Penerjemah: Barokah Ruziati & Angelic Zaizai

Penerbit : Fantasious

Tahun Terbit : November 2015 (Cetakan 1)

Rate : 3.7/5


 

“The North Remembers” – Lord Eddard Stark

Sinopsis:

Sebuah komet yang menyala semerah darah menggores cakrawala. Dari Citadel kuno tempat para maester tinggal hingga ke tepi daerah terlarang Winterfell, huru-hara merajalela. Enam faksi berusaha menguasai negeri yang terpecah belah dan Tahta Besi dari Tujuh Kerajaan, berjuang sampai tetes darah penghabisan.

Inilah kisah ketika adik berkomplot melawan kakak, ketika sihir menguasai akal sehat manusia, ketika mayat hidup berjalan pada tengah malam, serta orang-orang liar turun dari Pegunungan Bulan untuk memorak-porandakan desa-desa.

Walaupun pembunuhan antar saudara kandung, ramuan alkimia, serta pembantaian dianggap kehendak dewa, siapa pun yang menjadi pemenang pastilah mereka yang memiliki baja-baja terdingin, juga hati terdingin.

Spoiler Alert!

A Clash of Kings tidak lain merupakan buku kedua dari seri A Song of Ice and Fire, sebuah seri fantasi yang mengusung tema kolosal dengan menitikberatkan pada unsur taktik dan politik serta perkembangan karakter dalam setiap ceritanya.

Pada buku pertama, A Game of Thrones, cerita diakhiri dengan momen yang tidak diduga-duga dimana Ned Stark -pemimpin Klan Stark- dieksekusi dengan hukuman pancung atas tuduhan pengkhianatan terhadap Raja Joffrey Baratheon. Momen yang tidak pernah disangka oleh para pembaca yang berpikir bahwa Ned adalah tokoh utama protagonis dalam cerita ini, sehingga akan berumur panjang, namun justru sebaliknya. Ya, memang bukan rahasia lagi bahwa G.R.R. Martin terkenal tidak segan untuk menghabisi karakter pentingnya sendiri, walaupun itu masih di permulaan cerita.

Lalu, sepeninggal Ned Stark dan pasca Mangkatnya Robbert Baratheon -raja terdahulu- maka secara otomatis kursi pemerintahan digantikan oleh penerusnya, Joffrey, yang justru membawa dampak amat besar di Tujuh Kerajaan. Perang pun berkobar. Sebut saja Stannis dan Renly Baratheon, dua saudara kandung dari mendiang Robert Baratheon sekaligus paman dari Joffrey, yang sama-sama menobatkan diri sebagai raja dan mengklaim memiliki hak atas Iron Throne. Ini terjadi lantaran mereka mengetahui ada dugaan bahwa Joffrey Baratheon bukanlah anak kandung dari Robert dan Cersei, melainkan hasil hubungan inces sang Ratu dengan saudaranya sendiri Jaime Lannister, ini juga diperkuat dengan surat yang dikirim Ned Stark kepada Stannis di Dragonstone sebelum kematiannya dan membenarkan dugaan tersebut. Hal ini semakin mempertegas alasan duo Baratheon untuk mengklaim Iron Throne dan memerangi Joffrey.

“Tindakan yang baik tidak menghapus kesalahan, begitu pula sebaliknya. Masing-masing harus mendapatkan Ganjaran” – A Clash of Kings. hlm 716

Di sisi lain, Robb Stark yang bermaksud meminta keadilan dan menuntut balas atas kematian ayahnya, Ned Stark, akhirnya mendeklamasikan diri sebagai King In The North dan menyatakan perang terhadap Kings Landing serta Klan Lannister yang telah mengeksekusi Ned Stark tanpa pengadilan yang menurut mereka adil. Dengan didukung oleh lord-lord dari utara, klan Tully dari Riverrun, serta Klan Frey dari Twins, Robb dan pasukannya pun bertolak dari Winterfell untuk menuju medan pertempuran. The North Remembers

Tidak ketinggalan ada pula Klan Greyjoy yang digawangi oleh Balon Greyjoy, lord dari Kepulauan Besi, yang turut mengambil kesempatan atas kekisruhan ini juga berniat lepas dari Kings Landing dan menyatakan diri sebagai King of The Iron Islands. Langkah pertama yang dilakukan Balon Greyjoy adalah dengan mengutus dua anaknya yaitu Yara dan Theon Greyjoy, yang telah berkhianat dari Robb, untuk pergi ke wilayah Klan Stark di Utara dan merebut Moat Cailin. Namun Theon yang ingin unjuk gigi justru melangkah terlalu jauh dan berniat merebut Winterfell yang sedang lemah, lantaran hampir seluruh pasukan pergi berperang, dan ditinggalkan Robb pada adiknya Bran. Tanpa disadari, ini justru awal kehancuran dari Theon bersama Winterfell. Perang pun berkecamuk dimana-mana.

Di lain tempat ada Mother of Dragons, Daenarys Targeryen, yang berada di seberang Westeros tengah berjuang menggalang pasukannya di kota-kota merdeka seperti Qarth, Yunkai, dan Astapor untuk kemudian menyerbu Kings Landing dan menuntut kembali haknya atas Iron Throne.

“Musuh yang tak terlihat selalu paling menakutkan” – A Clash of Kings. hlm 736

Sementara para klan tengah sibuk berperang untuk memperebutkan Iron Throne, tidak ada yang menyadari bahwa bahaya sebenarnya yang tengah mengancam Westeros justru berada jauh di Utara, di balik The Wall. Pasukan Wildling dalam jumlah besar tengah bergerak menuju selatan Westeros. The Night Watch yang dipimpin oleh Komandan Mormont berniat untuk mengadang pasukan Wildling sebelum mereka terlalu dekat dengan The Wall, namun para Gagak -sebutan untuk anggota The Night Watch- tidak mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan pergerakan Wildling ini. Di balik The Wall, semua yang awalnya hanya berupa dongeng yang sering diceritakan oleh Nan Tua perlahan mulai menjadi kenyataan; Raksasa, Warg, bahkan White Walkers.

Sesuai dengan judulnya, A Clash of Kings (Peperangan Raja-Raja) dimana muncul lebih dari satu raja yang mengklaim hak masing-masing klannya baik karena dendam atau ambisi dan ego semata. Setiap klan yang menyatakan perang digambarkan dengan motifnya masing-masing sehingga menjadi bias dan pembaca tidak bisa memihak kepada siapa yang paling benar, mengingat masing-masing klan memiliki andil atas kekacauan yang terjadi. Perang hanya akan berujung pada kehancuran. Dengan nuansa yang kelam disertai intrik politik serta siasat licik masing-masing klan, sequel ini mengajak pembaca untuk terlibat ke dalam konflik peperangan yang melanda Westeros. Tidak lupa juga, para karakternya yang semakin berkembang dan ada penambahan narasi POV dari karakter baru semakin menambah warna pada sequel ini.

“Cinta adalah racun. Racun yang manis, memang, tapi tetap saja akan membunuhmu” – A Clash of Kings. hlm 887

Dari segi kelemahan, buku kedua ini masih menggunakan kertas buram yang kualitasnya tidak begitu bagus, serta font yang terasa lebih kecil dan spasi yang terlalu rapat membuat mataku sering lelah sewaktu membacanya. Selain itu, seharusnya peta yang termuat pada buku ini dibuat lebih besar dengan tulisan yang jelas, bukannya buram, sehingga dapat memudahkan pembaca untuk mengetahui lokasi yang melibatkan wilayah perairan dan pertempuran yang terjadi. Namun yang sangat disayangkan, pada edisi kali ini ada satu kesalahan fatal menurutku (selain juga masih banyak kesalahan penulisan kata/huruf/spasi/tanda baca dan terjemahan yang kurang greget), yaitu terdapat pengulangan 7 bab di halaman 484-593. Lalu, katanya, ada 5 bab yang hilang/tidak tercetak pada edisi ini, padahal cacat produksi ini tidak seharusnya terjadi. Beruntung, saat aku komplain ke pihak Fantasious, mereka bertanggung jawab dengan memberikan copy ebok A Clash of Kings ini secara cuma-cuma lewat google playbook. 

Yah, terlepas dari beberapa kesalahan dan menurunnya tempo cerita, menurutku buku ini masih menarik untuk dibaca terlebih bagi mereka yang menyukai cerita dengan nuansa kolosal dan segala kemelutnya. Aku pribadi akan menanti sepak terjang Jon snow dan Ghost, juga permainan siasat dari Tyrion Lannister di seri selanjutnya.

“Winter is coming” – House of Stark

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s