[Review] The Children of Hurin: Kisah Paling Tragis Dalam Sejarah Middle Earth

img_20161215_192350

Judul : The Children Of Hurin (Putra-putri Hurin)

Penulis : J.R.R. Tolkien

Penerjemah: Gita Yuliani K

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : April 2016 (Cetakan 1)

Rate : 5/5


“Karena orang yang lari dari ketakutan ternyata hanya mengambil jalan pintas untuk menjumpai ketakutannya itu” – The Children Of Hurin. hlm 45

Sinopsis:

Kisah anak-anak Hurin berlangsung jauh sebelum The Lord of The Rings, ketika Morgoth masih menghuni benteng Angband di Utara. Dalam bayang-bayang Angband serta perang yang dikobarkan Morgoth terhadap Elves inilah nasib Turin dan adiknya Nienor saling terkait secara tragis.

Hidup mereka yang singkat dan penuh tragedi didominasi kebencian Morgoth yang luar biasa terhadap Hurin, manusia yang berani menentangnya terang-terangan. Morgoth mengirim pelayannya yang paling digdaya, Glaurung, roh dahsyat berbentuk naga api raksasa tak bersayap, untuk menggenapi kutukan Morgoth dan menghancurkan anak-anak Hurin.

Dimulai oleh J.R.R. Tolkien pada akhir Perang Dunia Pertama, The Children of Hurin menjadi kisah yang dominan dalam karya Tolkien setelahnya tentang Middle-earth. Tetapi dia tak sempat mewujudkannya dalam bentuk final. Dalam buku ini Christopher Tolkien telah menyusun suatu narasi yang utuh tanpa intervensi penyuntingan, setelah melalui pengkajian lama atas naskah-naskah ayahnya.

Spoiler Alert!

Siapa yang tidak mengenal J.R.R. Tolkien? Aku rasa nama beliau sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, apalagi setelah cerita epik karangannya, trilogi The Lord of The Rings, diangkat ke layar lebar dan menuai sukses besar dan memiliki fans-nya tersendiri, nama J.R.R. Tolkien yang sudah terkenal pun kian membahana. Tidak pelak membuat penerbit sekelas GPU tak ragu untuk menerbitkan karya Tolkien lainnya seperti The Silmarillion, dan yang paling anyar adalah The Children of Hurin.

Jika pada karya beliau yang terdahulu terbit, kisah berkutat pada tema kepahlawanan yang happy ending dan agak jenaka dengan bahasa yang ringan, maka pada buku ini pembaca akan mendapati kesan yang berbeda baik dari segi gaya bahasa, penceritaan, hingga nasib yang menimpa para karakter di dalamnya, khususnya nasib Turin. Pada buku ini J.R.R. Tolkien seakan ingin menampilkan sisi lain dari Middle Earth yang tidak pernah disangka pembaca sebelumnya, kisah yang paling gelap yang pernah membayangi Arda pada zaman permulaan. Kisah dimana tangan-tangan kegelapan Morgoth mampu meliputi hampir sebagian besar wilayah Beleriand dan menciptakan teror dimana-mana.

Kisah seputar tragedi keluarga Hurin ini berawal pada Pertempuran Nirnaeth Arnoediad (Air Mata Tak Terbilang). Pada pertempuran ini bangsa Eldar, khususnya kaum Elf Noldor, bersama bangsa Edain dan Kurcaci turun ke medan perang untuk mengalahkan Morgoth yang berada di dalam benteng Angband. Ribuan pasukan yang tak terbilang banyaknya, dengan zirah dan perisai berikilauan, saling berhadapan dengan pasukan Orc dari Angband. Dan pertempuran pun pecah. Pada mulanya pasukan elf terlihat akan menguasai jalannya pertempuran. Namun, Morgoth sang Penguasa Kegelapan yang licik dan mengetahui tentang apa yang dilakukan dan dirancang musuh-musuhnya, berbalik unggul.

“Mungkin lebih baik tidak memberitahukan apa yang kita harapkan, kalau kita tidak bisa memilikinya” – The Children of Hurin. hlm 47

Pasukan dari Nargothrond dibantai oleh Orc, hanya menyisakan Gwindor sebagai tawanan Morgoth. Di sisi lain, pasukan Maedros juga hancur berantakan. Sisa-sisa dari mereka berhamburan dan berlarian kesana-kemari, termasuk putra-putra Feanor yang masih tersisa. Sementara Fingon, Raja Noldor, dan pasukannya juga ikut gugur akibat terdesak oleh pasukan Orc yang berjumlah dua kali lipat. Perlawanan hanya menyisakan Hurin dan Huor serta sisa pasukan Klan Hador yang masih berdiri kokoh bersama Turgon dari Gondolin. Menyadari kekalahan mereka, Hurin dan Huor meminta Turgon dan sisa pasukannya untuk melarikan diri, karena tidak akan ada lagi harapan jika mereka semua tewas di tempat itu. Akhirnya Turgon pun menurut dan berhasil kabur sambil membawa harapan yang tersisa bersamanya, sementara Hurin dan Huor terus berjuang menghalangi pasukan Orc. Hingga hanya tersisa Hurin seorang yang masih berdiri, sambil berteriak “Aure entuluva! Pagi akan datang lagi!” Ia terus melayangkan kapak ke arah musuh-musuhnya yang mengelilingi. Pada akhirnya perlawanan Hurin pun takluk, ia berhasil ditangkap dan diseret ke Angband, menghadap Sang Penguasa Kegelapan.

“Hari-hari yang belum tiba tidak perlu dicemaskan. Hari ini sudah lebih dari cukup” – The Children of Hurin. hlm 81

Di hadapan Morgoth, Hurin yang tangguh dan tegar saat berhadapan dengan kekuatan gelap, berdebat sengit dengannya. Niat Morgoth untuk mengorek keberadaan Gondolin dari Hurin, tempat sisa harapan yang dibawa Turgon berada, tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, Hurin justru berkata “Kau bukan Penguasa Manusia, dan tidak akan pernah menjadi Penguasa Manusia, meskipun seluruh Arda dan Menel jatuh dalam kekuasaanmu. Di luar Lingkaran Dunia kau tidak akan mengejar mereka yang menolakmu”.

Yang dibalas oleh Morgoth “Di luar Lingkaran Dunia aku tidak akan mengejar mereka. Karena di luar Lingkaran Dunia adalah Ketiadaan. Tetapi di dalamnya mereka tidak akan lolos dariku, sampai mereka berada di Ketiadaan”. Begitulah, lewat perkataannya Hurin menentang Morgoth, ia meragukan bahwa Morgoth dapat berkuasa atas seluruh Arda dan isinya. Namun Morgoth yang tidak suka mendapat tantangan atas kuasanya dan merasa direndahkan serta diejek oleh seorang manusia, menjawab “Kau akan melihat dan kau akan mengakui bahwa aku tidak berdusta. Tataplah negeri-negeri di mana kejahatan dan keputusasaan akan menghantam mereka yang kauserahkan kepadaku. Karena kau sudah berani mengejekku dan mempertanyakan kekuasaan Melkor. Karena itu dengan mataku kau akan melihat, dan dengan telingaku kau akan mendengar, dan tidak akan ada yang tersembunyi darimu”.

Begitulah kutukan dari Morgoth atas Hurin, sambil terbelenggu di ketinggian Thangorodrim, ia harus menyaksikan dengan pahit peristiwa yang melanda negeri Hithlum dan wilayah Beleriand, termasuk nasib tragis yang menimpa keluarganya di masa akan datang, terutama nasib Turin.

“Harapan palsu lebih berbahaya daripada kecemasan” – The Children of Hurin. hlm 79

Selepas kejadian tersebut, Morwen -istri Hurin- yang merasa Dor Lomin tidak aman lagi, memerintahkan agar Turin mengungsi ke kerajaan elf di Doriath dalam perlindungan Elu Thingol dan Melian. Tidak lama setelah Turin pergi, Morwen melahirkan anak ketiganya, Nienor. Turin yang tinggal dengan aman di Doriath mendapatkan kasih sayang Thingol, terlebih gurunya sendiri Beleg Chutalion, dan ia tumbuh menjadi lelaki tangkas dengan pengetahuan kaum elf. Namun, kemalangan Turin baru bermula. Saeros yang merasa iri, menimbulkan keributan yang berujung pada kematiannya dan pelarian Turin. Ia pergi hingga ke luar dari perbatasan Doriath, di mana perlindungan Melian tidak mampu menjangkaunya. 

Dalam pelariannya, Turin bertemu dengan segerombolan penyamun. Dalam waktu singkat, ia sudah bergabung dengan kumpulan penyamun tersebut dan mendapat di antara mereka atas kehebatannya. Bersama dengan para penyamun ini kemalangan Turin terus berlanjut, terus membayangi hingga pertemuannya dengan Mim sang kurcaci. Kemalangan pun kian menjadi saat Turin harus berhadapan dengan Glaurung, sosok naga yang diutus oleh Morgoth. Dan nantinya, nasib sial ini juga turut menyeret Morwen beserta Nienor ke dalamnya, hingga pada akhirnya kutukan Morgoth atas keluarga Hurin pun terpenuhi. Kemalangan yang terus membawa petaka dan kematian yang tidak terelakkan, baik bagi dirinya sendiri ataupun orang-orang yang terpaut nasib dengannya. Sebut saja Mim sang kurcaci, Beleg Chutalion, Androg, Finduilas putri Orodreth, Labadal dan lainnya. Bahkan seluruh Nargothrond, Dor Lomin, hingga Brethil pun ikut tertimpa nasib sial akibat kemalangan yang ditimpakan Morgoth kepada keluarga Hurin.

“Masa kini sangat buruk, dan orang harus waspada. Tidak semua yang mengucapkan bahasa indah juga berhati baik” – The Children of Hurin. hlm 203

Kisah tragis yang saling berkelindan ini tidak bisa dipungkiri dikemas oleh penulisnya dengan sangat memikat, dan tentunya apresiasi tinggi patut diberikan kepada penulis yang  telah menghadirkan satu lagi kisah epik ke tengah-tengah pembaca. Tidak lupa juga atas jerih payah sang anak, Christopher Tolkien, yang telah melengkapi bagian-bagian cerita yang belum terselesaikan oleh ayahnya itu, melalui kajian naskah-naskah yang ditinggalkan J.R.R. Tolkien kepadanya dengan waktu yang tidak sedikit. Dari segi penceritaan, penggambaran tempat dan karakter menurutku tidak perlu dipertanyakan lagi, semuanya dikemas dengan sangat baik dan sangat detil pada buku ini. Ya, begitulah Tolkien merangkai ceritanya, sangat perfectionist.

Meskipun kisah ini bertemakan kisah kepahlawan, namun ada banyak hal yang dapat dipetik dalam buku ini. Mulai dari sikap keberanian, pantang menyerah, rasa iba dan kasih sayang, bahkan tentang sikap angkuh dan keras kepala yang hanya akan berujung pada kehancuran. Dan kalau dipikir lagi, meskipun Turin adalah korban dari Morgoth, tapi sepertinya kutukan yang menimpa dirinya hanya mengambil bagian 30% saja atas nasib sialnya tersebut, sisanya menurutku adalah akibat sifat Turin sendiri yang bebal diberi nasihat, sombong, dan sembrono. Aku paling sebal dengan keras kepala dan angkuhnya Turin, dan karena sifat semacam ini nasib malang juga membayangi penghuni Beleriand lainnya.

Yah, pada intinya The Children of Hurin memang kisah paling gelap/paling tragis yang pernah dirangkai oleh J.R.R. Tolkien, dan bagiku sendiri perlu perhatian lebih untuk membacanya, seperti membolak-balik halaman genealogi dan lampiran untuk mengetahui keterangan para tokohnya agar tidak kebingungan. Dan pesanku, bagi mereka yang telah membaca trilogi LOTR dan karya Tolkien lainnya, namun masih merasa ketagihan akan dunia Middle Earth, maka buku The Children of Hurin sangat aku rekomendasikan.

Nb: Nilai plus dariku untuk sampul edisi GPU kali ini. Pada sampul tersebut tampak Turin yang tengah berdiri, seolah sedang mengamati, dengan mengenakan jubah dan pakaian elf, sembari bertumpu dengan pedang hitamnya, Gurthang. Juga dengan mengenakan helm perang kebanggaan klan Hador, The Dragon Helm of Dor Lomin, helm perang yang dipenuhi dengan hiasan ukiran-ukiran kemenangan dan naga Glaurung di atasnya. Ilustrasi nan indah tersebut adalah hasil goresan dari Alan Lee, ilustrator yang sudah lama diberi kepercayaan untuk memvisualisasikan karya J.R.R. Tolkien, di edisi buku kali ini juga turut disematkan ilustrasi Alan Lee lainnya di dalamnya.

“Duka adalah asah bagi benak yang keras” – The Children of Hurin. hlm 47

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s