[Review] The Dead Returns: Ketika Hidup Lebih Berharga Dari Kematian

the-dead-returns

Judul: The Dead Returns

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Andry Setiawan

Penerbit: Haru

Tahun Terbit: Juli 2016 (Cetakan 5)

Rate: 3.8/5


“Keberadaanku sekarang adalah hasil dari pengorbanan banyak orang. Sebenarnya aku harus melepas ini semua. Tapi, meskipun aku tahu itu, aku masih saja ingin berada di sini” – The Dead Returns. hlm 155

Sinopsis

Suatu malam, aku didorong jatuh dari tebing. Untungnya aku selamat.

Namun, saat aku membuka mataku dan menatap cermin, aku tidak lagi memandang diriku yang biasa-biasa saja. Tubuhku berganti dengan sosok pemuda tampan yang tadinya hendak menolongku.

Dengan tubuh baruku, aku bertekad mencari pembunuhku.

Tersangkanya, teman sekelas. Total, 35 orang. Salah satunya adalah pembunuhku

Spoiler Alert!

Secara garis besar, The Dead Returns menceritakan tentang Koyama Nobuo, siswa SMA Higashi, yang didorong dan jatuh dari atas tebing oleh sosok misterius. Sebenarnya dia hampir diselamatkan oleh seseorang yang bernama Takahashi Shinji, namun naas, ia pun terjatuh dari tebing tersebut. Akhirnya Koyama terbangun di sebuah rumah sakit, namun ia bukan lagi Koyama yang selama ini ia kira, setidaknya tubuhnya, ia beralih menjadi Takahashi Shinji. Dengan tubuh baru tersebut, Koyama pun bertekad untuk menemukan pelaku di balik jatuhnya ia dari tebing, pelaku yang ia duga adalah teman sekelasnya sendiri.

Coba kamu bayangkan jika kejadian ini menimpamu, apa yang akan kamu lakukan jika rohmu berada di tubuh orang lain setelah jatuh dari tebing? Terlebih lagi tubuh itu adalah tubuh orang yang hendak menolongmu. Resah, bingung, dan tidak nyaman. Setidaknya inilah yang dirasakan oleh tokoh utama buku ini, Koyama, yang secara aneh bersemayam di dalam tubuh Takahashi. Dua pribadi yang bertolak belakang.

Koyama, cowok dari keluarga sederhana dan biasa-biasa saja, yang memiliki kepribadian suram atau aneh dan juga seorang otaku kereta api serta dikenal terasing dari teman sekelasnya, harus memulai hidup lagi dan berperan menjadi Takahashi, cowok dari keluarga berada dengan tampang rupawan serta anak band yang diidolakan oleh banyak perempuan. Mengetahui hal ini, tidak bisa tidak Koyama menjadi senewen.

“Diabaikan secara tak sadar dan tanpa alasan rasanya lebih menyakitkan daripada diabaikan karena dibully” – The Dead Returns. hlm 98

Sementara itu, dengan memanfaatkan keadaan, Koyama pun memulai penyelidikannya sendiri untuk menemukan pelaku yang telah mendorong dirinya. Ia memulainya dengan mencari tahu dimana teman-teman sekelasnya berada pada tanggal 2 September malam, tanggal kejadian jatuhnya Koyama. Namun anehnya, teman-temannya tersebut memiliki alibi masing-masing yang justru membuat Koyama kebingungan. Seiring berjalannya penyelidikan yang dilakukan Koyama, pembaca pun seakan diajak untuk berspekulasi tentang pelakunya tersebut. Aku sendiri sempat berpikir bahwa pelakunya adalah Takahashi yang asli atau malah Yoshio, namun akhirnya semua itu dipatahkan oleh fakta yang mulai menyeruak, hingga penulis membeberkan sendiri sosok pelaku yang sama sekali tidak terpikirkan pembaca sejak awal. Di sini penulis menghadirkan twist yang menarik. Sehingga spekulasiku tentang Takahashi dan Yoshio menjadi tidak beralasan sama sekali.

Ternyata, pelaku pendorongan telah sejak awal diletakkan penulis di permulaan cerita dan terus bersinggungan dengan tokoh utama, namun pembaca dibuat tidak menyadarinya, seakan sosok tersebut putih tanpa dosa. Penulis sengaja menyembunyikan detil-detil kecil yang bisa mengarahkan pembaca kepada pelaku, aku akui inilah kepiawaian si penulis dalam menutupi dan menjaga misteri tetap terselubungi, yang membuatku lagi-lagi terkecoh. Selain itu, kelebihan buku ini juga terletak pada untaian diksi dan gaya bahasa yang ringan dan bisa dikatakan mudah relate dengan pembaca sehingga aku pun enggan rasanya untuk menutup buku ini, khususnya mungkin pembaca usia remaja, dimana memang kehidupan tokoh utama kita tidak lepas dari konflik batin yang kerap menimpa anak muda; perihal rasa percaya diri, persahabatan, hubungan kekeluargaan, cinta, dan arti penting dalam menjalani hidup.

“Hatiku seperti tumpul, seperti isi pensil yang tidak memiliki jiwa, dan merasa kosong” – The Dead Returns. hlm 199

Namun, menurutku porsi antara drama-misteri-supernaturalnya masih agak kurang berimbang. Mungkin karena porsi drama terlalu banyak daripada misterinya, dan aku pun merasa bahwa perjalanan Koyama dalam mencari petunjuk serta analisis-analisisnya terhadap fakta yang telah ia temukan masih terasa kurang kuat. Sehingga kecurigaan awal pembaca terkait si pelaku serta motifnya yang kemudian terjawab, hanya diungkapkan dengan sederhana saja. Tidak sekuat Holy Mother yang telah aku baca sebelumnya. Mungkin cerita akan lebih menarik lagi jika segala kecurigaan dan penemuan berserta analisis yang didapati oleh Koyama dapat lebih diperdalam lagi, sehingga unsur cerita misterinya pun lebih mengena.

Meskipun demikian, penulisan yang baik dan dengan kepiawaian Rikako dalam mengecoh pembaca, juga cerita yang ringan serta terjemahan yang mudah dipahami, menjadikan buku ini sebagai bacaan yang tetap menarik. Kemudian dengan alur yang mudah diikuti serta sentilan-sentilan terkait pentingnya membangun rasa kepercayaan diri dan agar lebih semangat dalam menjalani hidup, yang bisa dikatakan dapat memotifasi, juga adalah hal yang aku sukai dari buku Rikako ini. Akhirnya, dengan hanya total 246 halaman, aku tidak ragu untuk merekomendasikan buku ini kepada kalian.

Selamat menikmati.

“Dunia yang kulihat dengan rambut depan tersisir rapi ke belakang ini, ternyata begitu menyilaukan” – The Dead Returns. hlm 246

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s