Ingin Jadi Penulis, Katanya.

writing

Usianya sudah hampir menanjak seperempat abad dan masih memiliki sekelebat pemikiran di dalam kepalanya yang setara dengan pentium IV. Ia sudah cukup berumur, dan boleh dikatakan telah dewasa. Disaat rekan sejawat dan seperjuangan telah mulai menapaki kehidupan yang baru dan menantang, ia masih belum memulai langkah panjangnya. Katanya ia sempat berujar ingin menjadi pengusaha, namun tak berapa lama, ia berujar lagi kalau dunia sebagai penulis pun ingin dijajaki. Keinginan yang sepertinya selalu berubah-ubah. Nah, yang terakhir kali, ia sempat membatin bahwa hidup itu mengalir saja, nikmati dan tak perlu risau, let it flow saja katanya. Bah, ternyata ia sudah mulai merambah pemikiran sufi, yang tak tahu darimana datangnya itu.

Nah, saat berniat menjadi pengusaha, ia mencoba untuk berjualan buku. Pikirnya itu adalah kesempatan, karena tidak banyak yang menggeluti bidang tersebut dan dunia literasi juga sedang/akan menanjak. Namun karena angin-anginan, kegiatan itupun tak berapa lama pula ia geluti. Alasannya sih karena tidak banyak memiliki modal, tidak memiliki koneksi bisnis, atau distributor yang sulit dicapai.

Ketika menjadi penjual buku gagal, ia kemudian berniat banting setir, jadi penulis saja katanya. Duh, padahal ia sadar skill dan wawasan yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis pun ia tak punya, lalu bagaimana mungkin dia bisa menjadi penulis? Entahlah, sepertinya Tuhan pun tak mau memberi jawaban itu.

Karena minim skill dan wawasan itu ia pun bingung sendiri, hingga pada suatu ketika ia membaca sebuah kalimat yang mengungkapkan bahwa untuk menjadi penulis itu perbanyaklah membaca. Iya. Baca, baca, dan baca. Cukup mudah pikirnya. Sadar akan hal tersebut, ia pun mulai menelusuri ke dalam dirinya sendiri untuk mencari benih minat dalam membaca, karena ia ingat bahwa dulu sekali membaca adalah kegemarannya yang kini telah mengabur. Nah, bermula dari pencarian benih minat membaca dalam dirinya itu, ia lantas mulai mengais-ngais keping rupiah untuk dijadikan modal investasi awal yang katanya akan digunakan untuk membeli manuskrip-manuskrip, atau masyarakat kini menyebutnya buku.

Dengan pemikiran “banyak baca bisa menjadi penulis” ia pun berburu buku-buku bacaan yang menarik minatnya, segala genre coba ia rambah, tapi hatinya ternyata lebih terkait pada kisah-kisah fantasi. Kisah yang memang diliputi imajinasi dan dunia khayal ini telah menyusupi isi kepalanya. Sebut saja elf, dwarf, penyihir, hingga naga yang dengan nyaman bersemayam di lapis terdalam memorinya. Namun, niatnya untuk menjadi penulis ternyata tidak jua terwujud hanya dengan sekadar banyak membaca. Seakan menipu diri sendiri pikirnya.

Padahal semua orang pun tahu, menjadi penulis yang menelurkan sebuah buku tidak cukup hanya bermodalkan banyak membaca. Wawasan dan pengetahuan di bidang kepenulisan juga diperlukan. Selain itu koneksi kepada penerbit juga tidak boleh dilupakan, kelemahan-kelemahan ini sepertinya tidak disadarinya dengan baik. Bahkan untuk sekedar mendapatkan inspirasi dalam menulis pun ia sudah bingung setengah mati, pernah ia mencoba membuat sebuah tulisan yang disebutnya sebagai cerpen misteri tapi itupun tidak kunjung selesai lantaran ia tidak memiliki cukup inspirasi di dalam otak berkabutnya itu. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan banyak inspirasi jika ia tidak pernah menatap luasnya dunia, hidupnya seolah hanya sebatas lingkaran sebesar tempurung kelapa yang teronggok di tepi pantai; kecil, kosong, dan tak berarti.

Sebagai alter ego yang mengasihaninya, aku sebenarnya ingin menyarankan agar ia melangkah keluar dari lingkaran tempurung itu, lalu mengajaknya agar berani menjejakkan kakinya pada bentangan pasir pantai yang luas dan melangkah bebas, berlari mengitari pantai, atau bahkan menceburkan dirinya ke air laut yang terpapar sinar mentari pagi dan berenang sesuka hati. Ingin aku coba untuk mengenalkan indahnya dunia kepada dirinya yang sunyi itu, mengenalkan segala jenis hal yang ada di sekitarnya, menyadarkannya bahwa usia seperempat abadnya itu tidak mungkin berlangsung selamanya. Dengan kebebasannya melihat dunia, siapa tahu kelak ia akan memiliki banyak inspirasi yang dapat dituangkannya ke dalam bentuk tulisan yang penuh makna. Dunia terlalu luas untuk ia nikmati hanya dari sebuah buku. 

Ah, tapi apakah mungkin? Sebuah alter ego sepertiku bisa menyadarkan otak kusutnya itu. Ah, peduli setan. Ketika menulis kata-kata inipun aku telah bersusah payah untuk merenggut logikanya yang penuh nuansa suram itu. Momen ini kumanfaatkan untuk menulis segala niat baikku untuk menyadarkannya, bahwa jika ia benar-benar memiliki tujuan, ia harus konsisten meraihnya dan tidak boleh setengah-setengah. Juga ia harus berani untuk melihat dunia yang indah ini dan bercengkrama dengan segala entitas yang berada di sekitarnya, bukan tanpa sebab, karena ini justru akan memperkaya pengalaman dan mempertajam pemikirannya. Akan sangat disayangkan jika ia melewatkan kesenangan ini, betul kan?

Ah, waktuku hampir habis, sepertinya kesadaranku mulai goyah dan kepribadian bodohnya itu juga akan menggantikanku. Tidak apa, yang penting tugasku untuk saat ini bisa dikatakan sudah terlaksana, sisanya aku hanya bisa berharap bahwa semesta akan menuntaskannya.

Sampai bertemu, dariku, si alter ego.

menulis-dan-membaca

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s