[Review] Girls In The Dark: Panggung Untuk Bersandiwara

girls-in-the-dark

Judul: Girls In The Dark

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Andry Setiawan

Penerbit: Haru

Tahun Terbit: November 2016 (Cetakan IX)

Rate: 4/5


Sinopsis

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu?

Gadis itu mati. Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh Diri?

Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu. Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi . . . .

Kau pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

“Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. Tidak ada kepuasan yang melebihi kepuasan itu” – Girls In The Dark, hlm. 227

Spoiler Alert!

Sebagian besar orang pada awalnya mungkin akan mengira bahwa novel ini adalah novel horor, wajar saja, mengingat sampul dan sinopsis ceritanya mendukung persepsi akan hal itu. Namun jangan salah, novel ini justru merupakan novel misteri. Girls In The Dark ini secara garis besar menceritakan tentang misteri kematian ketua Klub Sastra di SMA Santa Maria, Shiraishi Itsumi, yang penuh teka-teki. Apakah ia tewas karena bunuh diri atau karena dibunuh? Jika memang karena bunuh diri apa penyebabnya, dan jika karena dibunuh apa motif dan siapa pelakunya?

Kemudian, dugaan akan kematian Itsumi yang dibunuh pun menyeruak dan lantas mengerucut kepada para anggota klub sastra itu sendiri, dimana pelaku kemungkinan besar adalah salah satu dari enam anggota klub sastra yang ada; Sumikawa Sayuri (Ketua Klub yang baru), Nitani Mirei (Siswi kelas 1-A), Kominami Akane (Siswi kelas 2-B), (Diana Detcheva (Murid Internasional), Koga Sonoko (Siswi kelas 3-B), dan Takaoka Shiyo (Siswi kelas 2-C).

Untuk memecahkan misteri ini kemudian sang ketua klub yang baru, Sumikawa Sayuri, memutuskan untuk mengadakan pertemuan rutin yang biasa mereka adakan setelah perayaan Paskah dan Pentakosta di sekolah mereka, yaitu pada pertemuan yang diberi nama yami nabe. Sebuah pertemuan dimana para anggota klub berkumpul di dalam ruangan gelap, sambil menyantap makanan yang dibawa oleh masing-masing anggota dan telah dicampur menjadi satu dalam sebuah wadah. Sambil menyantap hidangan tersebut, masing-masing anggota diperkenankan untuk membacakan sebuah karya tulis/cerpen yang telah mereka siapkan sebelumnya. Hanya saja ada yang berbeda pada pembacaan cerita kali ini, jika biasanya tema cerita yang dibacakan adalah bebas, maka tema cerita pada yami nabe ini adalah tentang kematian Shiraishi Itsumi. Dengan masing-masing anggota yang membacakan cerita mengenai kesan mereka terhadap Itsumi, maka diharapkan secara tidak langsung, agar pelaku di balik kematian Itsumi dapat diketahui.

“Rasa iri timbul karena perasaan yang mengatakan bahwa seseorang seharusnya bisa menjadi seperti yang dia irikan” – Girls In The Dark, hlm. 50

Penceritaan pada buku ini dibuat berdasarkan pandangan setiap anggota klub terhadap Itsumi, yang diolah layaknya sebuah cerpen. Cerita pertama dimulai oleh sosok Nitani Mirei, siswi yang baru saja menginjak tahun pertamanya di Santa Maria berkat program beasiswa yang diadakan oleh sekolah tersebut. Membaca cerita yang dibawakan oleh Nitani, bisa dikatakan sebagai awal perkenalan pembaca terhadap tokoh lainnya. Di sini Nitani memaparkan bagaimana awal mula perkenalannya dengan Itsumi dan bagaimana sempurnanya sosok tersebut di matanya. Selain itu, lewat cerita yang ia buat Nitani juga menjabarkan bagaimana watak anggota klub lainnya, yang mengarah pada kecurigaannya terhadap Koga Sonoko. Sosok yang ia anggap sebagai biang keladi dari tewasnya Itsumi.

Lewat pemaparan Nitani ini, mau tidak mau pembaca juga akan turut mencurigai Sonoko, mengingat bagaimana sosok tersebut diolah dengan sedemikian mencurigakan. Namun alih-alih menjatuhkan vonis pada Sonoko, pembaca kembali dibuat memikirkan ulang kecurigaan tersebut ketika beralih kepada cerita kedua yang dibacakan oleh Kominami Akane. Pada cerita kedua ini, ia menduga bahwa Nitani Mirei-lah yang telah mengakibatkan Itsumi meninggal dengan cara yang tragis. Kominami beranggapan bahwa Nitani memiliki rasa iri terhadap Itsumi, dan suka mencuri barang pribadi serta melakukan tidak kekerasan terhadapnya. Itsumi yang sangat baik hati dan tidak ingin melawan Nitani tersebut pada akhirnya hanya bisa terbaring kaku dengan bersimba darah.

Lain lagi pada cerita yang ketiga. Pada cerita yang dibacakan oleh Diana Detcheva, kecurigaan justru mengarah kepada Takaoka Shiyo. Begitupun pada cerita selanjutnya, masing-masing anggota klub memaparkan cerita berbeda dengan tersangka yang berbeda pula. Hal ini terus saja berlanjut hingga pembacaan cerita yang terakhir. Seiring pembacaan cerita dalam pertemuan yami nabe, pembaca dibuat kebingungan dan seakan diajak oleh penulis untuk memilah mana cerita yang sekadar polesan dan mana cerita yang menyajikan kebenaran akan misteri Itsumi ini. Pada akhirnya, semua fakta diungkap oleh Sumikawa Sayuri lewat cerita yang ia bacakan. Pada cerita terakhir ini fakta yang mengejutkan pun terungkap, dimana akhirnya yang terjadi adalah adanya pergeseran trendsetter dari sosok Shiraishi Itsumi kepada sosok yang selama ini berada di balik bayang. Sebuah pergantian tokoh utama layaknya di sebuah pementasan drama, dimana tokoh utama harus menyingkir jika memang tidak bisa lagi melanjutkan peran sentralnya.

“Siapa kira-kira yang pantas untuk menjadi peran pembantuku?”
– 
Girls In The Dark, hlm. 237

Sosok pengganti Itsumi inilah yang ternyata merupakan otak di balik semua misteri yang membayangi dari awal cerita. Untuk bisa menebak misteri utama, kuncinya adalah pembaca memang harus jeli terhadap karakter sentral cerita ini, yaitu Itsumi. Jangan sampai tertipu dengan kesempurnaannya. Oh, dan aku kasih bocoran sedikit, bahwa semua karakter yang menjadi “pemain” dalam drama misteri ini sangat pandai bersandiwara untuk menutupi kebusukan mereka. Ibarat sedang memakai topeng, mereka  pandai menyembunyikan wajah yang sebenarnya di balik topeng tersebut.

Cerita Girls In The Dark ini memang dikemas dengan cukup menarik meskipun dengan tempo cerita yang cenderung lambat. Bisa dikatakan sebagai cerita misteri yang tidak berbelit-belit, ya, karena misteri terpecahkan hanya dalam tempo satu malam saja lewat pertemuan yami nabe, berbeda dengan cerita misteri kebanyakan yang perlu durasi lebih lama dan dengan analisis-analisis yang tidak sederhana. Tapi sayangnya, setelah pelakunya terkuak pada cerita terkahir, aku merasa kok motif yang dimiliki pelaku terkesan biasa saja. Apa mungkin karena latar belakang pelaku kurang begitu dieksplor oleh penulis sehingga aku merasa kesan ia di sini jadi tidak begitu kuat. Selain itu, saat pertama kali mengetahui Itsumi (diduga) telah mati, menurutku penulis kurang memberikan penggambaran yang detil sehingga aku tidak menangkap bagaimana proses kematiannya atau apa penyebab dan bagaimana kondisi Itsumi setelah ia dinyatakan telah mati.

Yang aku tangkap hanya kondisi dimana itsumi telah terbaring dengan kondisi tubuh bersimba darah sambil memegang bunga lily, tidak dijelaskan bagian mana yang cedera, atau adakah tindakan penyelidikan di TKP. Seandainya ini diperkuat, menurutku akan semakin menegaskan cerita misterinya. Kemudian, meskipun cerita dituturkan dengan POV dari berbagai tokoh, tapi perbedaan karakter tiap-tiap tokoh tidak begitu terasa. Hanya ada sedikit perbedaan yang terasa, yaitu pada karakter Sumikawa Sayuri dan Itsumi, sementara yang lainnya tidak begitu kentara. Tapi, overall, untuk cerita misteri yang tergolong ringan, 4/5 bintang mungkin sudah cukup.

*Secara pribadi aku lebih memilih Holy Mother ketimbang cerita ini.

“Kalau kau ingin menggerakkan seseorang sesuai dengan kehendakmu, maka genggamlah rahasianya. . .” – Girls In The Dark, hlm. 237

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s