Pohon Duka Tumbuh Di Matamu – Kumpulan Sajak Rindu Untukmu Kekasih

18444488_405556519831437_1225278006893740032_n

Judul: Pohon Duka Tumbuh Di Matamu

Penulis: Krishna Pabichara

Penerbit: Indie Book Corner

Tahun Terbit: 2014

Rate: 4.4/5


Monologi Kopi

“Jika ia benar-benar mau pergi, biarkan saja.
Mungkin ia ingin tahu bagaimana rasanya kembali
Bila ia tak pernah kembali, biarkan saja.
Mungkin ia ingin memahami hakikat kehilangan.
Andai kehilangan tak menyadarkannya, biarkan saja.
Mungkin ia ingin segera berguru pada penyesalan.”

Buku kumpulan sajak ini pertama kali terbit pada 2014 lalu, dengan desain sampul yang sederhana namun sarat akan pesan tentang kerinduan yang mendalam.

Krishna Pabichara mungkin melejit bukan sebagai penulis sajak rindu, melainkan sebagai penulis buku Sepatu Dahlan, tapi siapa yang tahu bahwa “Daeng” satu ini ternyata juga seorang pujangga yang piawai merangkai kata-kata rindu nan indah. Jika boleh jujur, awal mula aku jatuh cinta dengan rangkaian diksi Daeng Krishna adalah ketika membaca kumpulan cerpen miliknya yang berjudul Gadis Pakarena, sebuah kumcer yang mengangkat kisah dengan berlatar belakang adat budaya Makasar. Beliau terlihat sangat menguasai dan benar-benar bisa mengolah sebuah cerita dengan balutan cinta dan tragedi, tanpa menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.

Kembali ke kumpulan sajak ini. Untuk sebuah buku puisi, Pohon Duka di Matamu terbilang memuat puisi yang sangat banyak. Total, buku ini berisi 123 puisi yang kesemuanya memang mengandung makna rindu, entah rindu kepada pujaan hati atau keluarga terkasih.

Sekali lagi, menurutku Yang menarik dari tulisan Daeng ini adalah kepiawaian dia dalam merangkai kata dalam tiap bait puisinya, kemudian diksi yang juga mudah dicerna/dipahami meskipun untuk mereka yang masih awam terhadap puisi. Karena seperti yang kita tahu, biasanya penulis puisi adalah seorang yang “ingin pamer” sehingga tidak jarang kalau puisi memuat kata-kata dengan majas dan nilai rasa yang awam di lidah pembaca, namun tidak halnya dengan sajak dari Daeng Krishna.

“Semenjak luka kunamai doa, aku tahu kehilangan tak lagi butuh air mata” – Krishna Pabichara, hlm. 59

Boleh dibilang ini adalah penilaianku sebagai seorang penikmat puisi, dan menurutku, kumpulan sajak dari Krishna Pabichara ini tidak ada salahnya untuk aku rekomendasikan kepada kalian. Selain desain sampul yang menarik, diksi yang memikat, juga pesan rindu yang mendalam, apalagi yang kurang?

Yah, akhir kata; kuucapkan selamat membaca dan menikmati, di sela rehat dalam kesendirian kalian bersama secangkir kopi hangat.

 

Perisai

“Takkan kubiarkan matamu basah.
Pelik hidup biar kupeluk sendiri.
Bagimu, cukuplah bahagia saja.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s