Perkara Hati dan Juga Rasa

7 Tanda Tanda Hati Yang Mati

Ketika hati mulai merasa, tidak heran jika kita menjadi tak keruan. Pikiran serasa berkabut, dan logika mulai runtuh. Memang ini lumrah dan manusiawi. Tidak boleh tidak, fase seperti ini pasti akan kita alami. Hanya saja, bagaimana jika keadaan ini terus saja berlarut-larut tanpa ada ujung terangnya? Layaknya siklus rantai makanan dalam pelajaran IPA di Sekolah Dasar.

Lantas, benakku pun melompat jauh, memunculkan sosok Adam dan Hawa yang melegenda.

Jika sosok Hawa sudah mulai bersemayam dengan nyaman dalam benak Adam, maka naaslah ia, hidup jadi tidak tenang. Setan alas akan dengan senang hati mendekati dan meracuni pikiran Adam, mengisinya dengan bayang-bayang Hawa yang cantik dan rupawan. Membuatnya serasa ingin memiliki. Pantaslah jika larangan Tuhan pun akan dilanggar, hanya untuk Hawa semata. Sebut saja ini bagian dari pengorbanan, yang umum disebut-sebut atas nama cinta. Benarkah demikian?

Jika ini memang cinta, layaknya Adam kepada Hawa, maka biarlah. Hanya saja, apakah kisahnya akan serupa? Jika Adam dan Hawa saling mencinta dan akhirnya dipertemukan setelah mengalami ujian bertubi-tubi, maka mungkinkah sosok “Adam” yang satu ini juga akan mendapatkan balasan rasa yang sama dari Hawa? Entahlah, semesta nampaknya masih betah menyimpan jawabannya dengan rapat. Bagiku dialah Hawa, yang cantik dan rupawan, yang bisa meruntuhkan nalar dan logikaku. Merusak segala bentuk pandanganku terhadap setiap realita yang ada, menghadirkan semua khayal dan utopia sesat di benakku dan aku menjadi rentan dalam perangkap setan karenanya. Karena aku adalah Adam yang lemah, lemah lantaran mendamba sosok Hawa yang berada jauh dari genggaman.

Ia, Hawa, seketika hadir dan seketika pula lenyap. Hadirnya membawa keindahan juga godaan, dan batinku mencoba teguh mempertahankan kenyataan agar tidak goyah. Karena perkara hati dapat menimbulkan perkara rasa yang rumit dan senantiasa menjebak. Aku layaknya sebuah lemari kayu tua yang telah lama berdiri sendiri di pojok ruangan, tanpa pernah ada yang mengisinya dengan benda maupun pernak-pernik berharga, lemari tua yang telah terlalu lama kosong. Kaki-kakinya pun mulai lapuk ketika menanti dan terus menanti. Memang tidak jadi soal ketika kita merasa kosong dan sendirian, hanya berteman sepi. Hanya saja, tentu akan lebih baik jika lemari tua ini tidak lagi kosong dan teronggok sendiri, setidaknya ia akan memiliki teman di dekatnya yang akan senantiasa menemani dan bersanding saat ia terus melapuk.

Karena ketika selalu merasa sendiri dan kesepian akan sangat membosankan.

Jika perkara hati adalah juga perkara rasa, maka sebagai seorang Adam, adalah tugasku untuk mendamba kepada Hawa. Inilah hati dan juga rasaku sebagai seorang Adam ataupun layaknya sebagai lemari kayu yang sudah lapuk. Mendamba pada sosok Hawa yang cantik dan rupawan, mendamba pada hadirnya dalam bilik yang khusus kusediakan untuk memujanya. Hingga kemudian genaplah kisahku, ketika telah benar-benar dipertemukan dengan Hawa yang juga memiliki rasa yang serupa. Untuk saat ini biarlah sendiriku berteman sepi, akan kunikmati rasa yang kosong ini hingga genggamku bersambut pada sang Hawa yang terus melangkah di depanku tanpa menoleh. Hingga sampai pada satu masa dimana langkah kami mulai seirama dan beriring berdampingan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s