[Review] Norwegian Wood: Sebuah Kisah Tentang Kehampaan dan Kesendirian

nowergianwood

Judul : Norwegian Wood

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit : Mei 2013 – Cetakan 4

Rate : 4.8/5


“Jika kamu membaca buku yang sama dengan yang dibaca oleh orang kebanyakan, maka cara berpikirmu hanya akan seperti mereka.”
– Haruki Murakami, Norwegian Wood

Sinopsis.

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

Spoiler Alert!

Dalam perjalanannya menuju ke Jerman, sewaktu berada di dalam pesawat yang tengah lepas landas pada bulan November yang dingin, seketika Watanabe (37 tahun) mendengar lantunan lagu Norwegian Wood, lagu favorit dari seseorang yang pernah dekat dengannya, dan memorinya sontak kembali ke masa 20 tahun silam. Saat musim gugur 1969 ketika ia masih berusia 18 tahun. Watanabe kembali teringat akan kejadian-kejadian yang telah dilaluinya bersama sahabat karibnya yang meninggal karena kecelakaan, Kizuki, juga teringat pada kisah cintanya dengan Naoko maupun Midori, kehidupan seks bebas yang pernah dilaluinya bersama Nagasawa, serta akan hubungannya yang tidak biasa dengan Reiko-san. Semua peristiwa tersebut seakan menyatu dan menghantamnya seketika seperti gulungan ombak besar di lautan yang tengah meluluhlantakan sebuah kapal pencari ikan.

Cerita Norwegian Wood secara keseluruhan mengisahkan tentang kehidupan yang terjadi pada Watanabe di masa-masa kuliahnya. Watanabe sebagai tokoh utama cerita ini digambarkan sebagai seorang yang biasa-biasa saja yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja pula, namun ia memiliki daya tarik tersendiri sebagai seorang penyuka buku yang pendiam. Selama hidupnya, Watanabe adalah seorang yang bisa dibilang penyendiri, sehingga tidak jarang ia bahkan hampir tidak memiliki teman, kecuali Kizuki dan Naoko. Sosok sahabat karib yang dapat mengerti keadaan Watanabe, namun sayang Kizuki malah meninggal ketika berusia 17 tahun. Akhirnya hanya Naoko seorang, yang juga adalah kekasih mendiang Kizuki, yang bisa dikatakan sebagai teman Watanabe.

Apa yang terjadi jika orang-orang mulai membuka hatinya?”
“Mereka menjadi lebih baik.”
– Haruki Murakami, Norwegian Wood

Seiring berjalannya waktu, ternyata Watanabe mulai menyukai sosok dan kepribadian Naoko; manis, pemalu, dan pendiam. Meskipun ia tahu bahwa Naoko hanyalah milik Kizuki seorang. Namun seiring berlalu, berbagai konflik yang menghiasi hubungan mereka pun muncul, sehingga mengharuskan mereka untuk berpisah jarak. Kendati demikian, mereka tetap saling menyurati. Sampai akhirnya takdir menuntun Watanabe untuk bertemu Nagasawa, sosok pemuda yang bisa dibilang sempurna namun cenderung individualis. Lalu ada juga Midori, teman satu mata kuliah Watanabe yang memiliki kepribadian berkebalikan dengan Naoko, yang juga memiliki daya pikatnya tersendiri. Hingga kemudian terjalin chemistry yang rumit di antara mereka.

Menurutku, berbagai macam kemelut dan kepelikan yang mewarnai kisah hidup Watanabe dan orang-orang di sekitarnya menjadi daya tarik dari novel ini. Meskipun perlu diakui, cerita-cerita yang ditulis oleh Murakami memang terkesan tidak memiliki tujuan yang jelas, alurnya pun terkesan mengalir begitu saja mengikuti karakter-karakter ceritanya (setidaknya ini yang aku rasa setelah membaca 1Q84 dan Norwegian Wood). Jadi tidak heran jika tanggapan awal pembaca adalah tempo cerita yang monoton dan tidak tahu akan berujung kemana. Aku pun sempat berpikir demikian. Namun, justru alur cerita yang mengalir seperti ini membuat aku hanyut dengan kisah Watanabe, seakan-akan kita menjadi saksi akan berbagai kejadian yang menimpanya. Dan tanpa sadar aku menjadi bersimpati dengan keadaan Naoko, Midori, dan Watanabe.

1/3 permulaan cerita, pembaca akan diajak mengenal dan menyelami hubungan antara Watanabe-Kizuki-Naoko, dan bagaimana sehingga hati Watanabe bertaut kepada Naoko. Lalu memasuki pertengahan cerita, pembaca akan berkenalan dengan Midori dan Nagasawa, serta bagaimana kehidupan Watanabe di asrama kampusnya, setelah ia memutuskan untuk memilih Tokyo sebagai tempat menetap selama perkuliahan. Dengan alasan ia bisa mencari suasana baru agar dapat melupakan Kizuki, walaupun membuat hubungannya dengan Naoko menjadi tidak jelas. Kemudian pada bagian akhir cerita, pembaca akan disajikan kekalutan yang menghinggapi Watanabe, sehingga ia harus memilih siapa salah satu sosok yang berarti bagi dirinya, apakah ia akan dapat terbebas dari masa lalu atau tetap hidup dengan terus merasa terbebani.

“Jangan mengasihani dirimu sendiri. Hanya orang gagal yang melakukan itu.”
– Haruki Murakami, Norwegian Wood

Norwegian Wood menyajikan konflik -yang kerap kali bersentuhan dengan realita kita- yang terus menghantui karakter di dalamnya, seakan nuansa kelam terus menggelayuti mereka. Dari mulai perkara cinta, kematian, depresi, kelainan seksual, semua perkara yang berhubungan dengan psikologi pada umumnya. Selain itu, meskipun dengan tempo yang perlahan, Murakami mampu merangkai alur cerita yang terus mengalir sehingga pembaca akan terus mengikuti perjalanan Watanabe tanpa bisa menebak akhir kisahnya. Dan ia juga merangkai penceritaan/stroy telling yang begitu baik, mengemasnya dengan detil-detil yang memperkuat pendeskripsian latar, tokoh, dan suasana cerita. Ya walaupun tidak jarang pembaca akan dibuat bingung dengan cerita yang tidak jelas kemana arah dan tujuannya ataupun dengan akhir yang menggantung, tapi, ya memang begitulah cerita yang ditulis oleh Murakami. Mungkin sedikit saran, saat membacanya kita tidak perlu repot-repot untuk menerka atau ingin menguak misteri ini dan itu, cukup nikmati saja dan biarkan alur cerita membawa kita hanyut mengikuti kisah Watanabe di tahun 1969 tersebut. Overall, i love it!

———–

N.B:

  • Norwegian Wood menyajikan narasi yang tidak biasa, dan di balut dengan adegan-adegan dewasa, meskipun tidak begitu vulgar, jadi menurutku kebijaksanaan pembaca memang diperlukan. Jika tidak terbiasa dan tidak menyukai dengan konten semacam ini, maka sebaiknya jangan pernah membaca Norwegian Wood.
  • Cerita ini sudah di angkat ke layar lebar pada tahun 2010 dengan judul yang sama. Ingin menontonnya? Carilah!

norwegian_wood HM-NorwegianWood(UK)Paper

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s