Generasi Micin: Anak Zaman Now Yang Nampaknya Kurang Asupan Akal Sehat

Generasi Micin

Sumber: google.com

Setelah hampir satu tahun tidak ada tulisan baru di blog ini, kali ini aku coba untuk mempost satu tulisan yang entah penting atau tidak untuk kalian baca. Bukan tentang ulasan buku, film, atau tokoh yang menginspirasi, tetapi tentang unek-unek yang beberapa waktu ini aku coba abaikan namun akhirnya akan lebih baik jika aku tuliskan saja, begitu pikirku. Tulisan ini hanya opini pribadiku semata, jadi besar kemungkinan kalian yang membacanya akan berbeda pendapat. Tapi tak apa, toh, berbeda memang hal yang lazim. Jadi, jika kalian memiliki opini yang berbeda, tidak ada salahnya untuk berbagi kan? Ok, lanjut!

Tik Tok, Musical.ly, dan banyak aplikasi kekinian lainnya sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi para netizen apalagi anak muda usia remaja yang kesehariannya tidak pernah lepas dari gawai atau gadget canggih. Generasi Micin, begitulah sebutan bagi remaja kekinian yang tingkah lakunya seringkali membuat cringe di jejaring sosial, mulai dari joget-joget tidak jelas dengan mengumbar pantat bohay dan payudara yang sengaja ditonjolkan, mulut yang dimonyongkan seolah-olah ingin terlihat imut padahal malah menjadi menjijikan. Jika keanehan ini dilakukan oleh kaum hawa aku masih bisa maklum, namun tidak jarang pula lelaki pun melakukannya dengan merekam mimik wajah mereka yang dibuat-buat ganteng sambil bertelanjang dada dan menggigit bunga, lalu mengunggahnya ke media sosial seperti instagram. Jijik. Lalu bagaimana jika si adam dan hawa ini berduet untuk melakukan keanehan seperti tadi? Yah, aku cuma bisa berujar dalam hati “Duh, Gusti, kok begini amat ya. Zaman makin aneh.”

Read More

Advertisements

[Review] Norwegian Wood: Sebuah Kisah Tentang Kehampaan dan Kesendirian

nowergianwood

Judul : Norwegian Wood

Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit : Mei 2013 – Cetakan 4

Rate : 4.8/5


“Jika kamu membaca buku yang sama dengan yang dibaca oleh orang kebanyakan, maka cara berpikirmu hanya akan seperti mereka.”
– Haruki Murakami, Norwegian Wood

Sinopsis.

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

Read More

Perkara Hati dan Juga Rasa

7 Tanda Tanda Hati Yang Mati

Ketika hati mulai merasa, tidak heran jika kita menjadi tak keruan. Pikiran serasa berkabut, dan logika mulai runtuh. Memang ini lumrah dan manusiawi. Tidak boleh tidak, fase seperti ini pasti akan kita alami. Hanya saja, bagaimana jika keadaan ini terus saja berlarut-larut tanpa ada ujung terangnya? Layaknya siklus rantai makanan dalam pelajaran IPA di Sekolah Dasar.

Lantas, benakku pun melompat jauh, memunculkan sosok Adam dan Hawa yang melegenda.

Jika sosok Hawa sudah mulai bersemayam dengan nyaman dalam benak Adam, maka naaslah ia, hidup jadi tidak tenang. Setan alas akan dengan senang hati mendekati dan meracuni pikiran Adam, mengisinya dengan bayang-bayang Hawa yang cantik dan rupawan. Membuatnya serasa ingin memiliki. Pantaslah jika larangan Tuhan pun akan dilanggar, hanya untuk Hawa semata. Sebut saja ini bagian dari pengorbanan, yang umum disebut-sebut atas nama cinta. Benarkah demikian?

Read More

Pohon Duka Tumbuh Di Matamu – Kumpulan Sajak Rindu Untukmu Kekasih

18444488_405556519831437_1225278006893740032_n

Judul: Pohon Duka Tumbuh Di Matamu

Penulis: Krishna Pabichara

Penerbit: Indie Book Corner

Tahun Terbit: 2014

Rate: 4.4/5


Monologi Kopi

“Jika ia benar-benar mau pergi, biarkan saja.
Mungkin ia ingin tahu bagaimana rasanya kembali
Bila ia tak pernah kembali, biarkan saja.
Mungkin ia ingin memahami hakikat kehilangan.
Andai kehilangan tak menyadarkannya, biarkan saja.
Mungkin ia ingin segera berguru pada penyesalan.”

Buku kumpulan sajak ini pertama kali terbit pada 2014 lalu, dengan desain sampul yang sederhana namun sarat akan pesan tentang kerinduan yang mendalam.

Read More