Pohon Duka Tumbuh Di Matamu – Kumpulan Sajak Rindu Untukmu Kekasih

18444488_405556519831437_1225278006893740032_n

Judul: Pohon Duka Tumbuh Di Matamu

Penulis: Krishna Pabichara

Penerbit: Indie Book Corner

Tahun Terbit: 2014

Rate: 4.4/5


Monologi Kopi

“Jika ia benar-benar mau pergi, biarkan saja.
Mungkin ia ingin tahu bagaimana rasanya kembali
Bila ia tak pernah kembali, biarkan saja.
Mungkin ia ingin memahami hakikat kehilangan.
Andai kehilangan tak menyadarkannya, biarkan saja.
Mungkin ia ingin segera berguru pada penyesalan.”

Buku kumpulan sajak ini pertama kali terbit pada 2014 lalu, dengan desain sampul yang sederhana namun sarat akan pesan tentang kerinduan yang mendalam.

Read More

Advertisements

Karya Seorang Penakut

mengatasi_anak_yang_penakut

Menciptakan sebuah karya yang otentik pasti akan menjadi impian setiap orang yang berhasrat. Terlepas apapun karya tersebut. Karya tidak melulu soal keindahan atau seni, bagiku karya lebih kepada satu bukti eksistensi diri di alam raya ini, entah itu berupa benda atau sumbangan pemikiran.

Dengan karya, maka kita ada. Dan dengan karya, maka kita telah meninggalkan seberkas jejak di dalam bagian sejarah. Apakah karya tersebut akan dikenang atau tidak, bukan menjadi soal. Semua orang berhak mendefinisikan karya dengan cara mereka sendiri. Sementara bagiku, esensi dari sebuah karya adalah suatu hal yang dapat memberikan manfaat baik itu untuk diri kita sendiri ataupun orang banyak.

Seperti ucapan Tuhan dalam kitabnya, bahwa sebaik-baik manusia adalah ia yang membawa manfaat bagi orang di sekitarnya. Indah, bukan?

Benar, bagiku karya terbesar seorang manusia adalah suatu hasil dari dirinya baik itu berupa buah pemikiran ataupun benda yang dapat memberikan manfaat kepada orang banyak. Bayangkan, betapa indahnya jika karya yang kita hasilkan ternyata dapat membawa senyum bahagia untuk orang-orang di sekitar kita. Tentunya itu adalah sebuah kepuasan yang tidak dapat ditakar dengan materi.

Telah begitu banyak tercatat dalam sejarah, nama-nama dari mereka yang telah membuahkan karya luar biasa bagi kehidupan dan kemanusiaan. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang terkenal berani meruntuhkan tembok penghalang di hadapan mereka.

Read More

Ingin Jadi Penulis, Katanya.

writing

Usianya sudah hampir menanjak seperempat abad dan masih memiliki sekelebat pemikiran di dalam kepalanya yang setara dengan pentium IV. Ia sudah cukup berumur, dan boleh dikatakan telah dewasa. Disaat rekan sejawat dan seperjuangan telah mulai menapaki kehidupan yang baru dan menantang, ia masih belum memulai langkah panjangnya. Katanya ia sempat berujar ingin menjadi pengusaha, namun tak berapa lama, ia berujar lagi kalau dunia sebagai penulis pun ingin dijajaki. Keinginan yang sepertinya selalu berubah-ubah. Nah, yang terakhir kali, ia sempat membatin bahwa hidup itu mengalir saja, nikmati dan tak perlu risau, let it flow saja katanya. Bah, ternyata ia sudah mulai merambah pemikiran sufi, yang tak tahu darimana datangnya itu.

Nah, saat berniat menjadi pengusaha, ia mencoba untuk berjualan buku. Pikirnya itu adalah kesempatan, karena tidak banyak yang menggeluti bidang tersebut dan dunia literasi juga sedang/akan menanjak. Namun karena angin-anginan, kegiatan itupun tak berapa lama pula ia geluti. Alasannya sih karena tidak banyak memiliki modal, tidak memiliki koneksi bisnis, atau distributor yang sulit dicapai.

Read More

Doa Seorang W.S Rendra

Processed with VSCO

Judul : Doa Untuk Anak Cucu

Penulis : W.S. Rendra

Penyunting : Edi Haryono

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun Terbit : 2013 (cetakan I)

Tebal Halaman : 105 halaman

Rate : 5/5


….

Amarah dan duka

menjadi jeladri dendam

bola-bola api tak terkendali

yang membentur diri sendiri

dan memperlemah perlawanan.

Sebab seharusnya perlawanan

membuahkan perbaikan,

bukan sekadar penghancuran

….

Itulah sepenggal puisi W.S. Rendra yang berjudul Inilah Saatnya, yang juga dimuat dalam buku ini. Buku ini merupakan kumpulan puisi Rendra yang belum pernah dibukukan, setidaknya begitulah kalimat yang tertera pada cover buku ini.

Sejujurnya aku belum akrab dengan yang namanya puisi, bahkan penyair-penyair legendaris Indonesia pun tidak banyak yang aku ketahui termasuk Rendra, tetapi beberapa waktu terakhir ini batinku seperti ingin lebih mengenal sastra. Aku ingin lebih mengenal puisi-puisi dan penyairnya, dan itu ku mulai lewat buku ini.

Memang, sebelumnya ada beberapa kumpulan puisi yang sudah aku baca (aku tidak sebutkan judulnya), tetapi setelah membacanya aku tidak merasakan apa-apa dari puisi-puisi tersebut. Entah karena aku yang belum peka terhadap sastra atau memang puisinya yang tidak memberikan apa-apa pada ku, yang jelas aku merasa biasa saja.

Read More